HARI ANAK NASIONAL

Beri Anak Kesempatan Bersuara

Ratusan anak menghadiri acara peringatan Hari Anak Nasional yang digelar WVI di Nias Utara, Jumat (25/7/2014). | Foto: NBC/Onlyhu Ndraha

Ratusan anak menghadiri acara peringatan Hari Anak Nasional yang digelar WVI di Nias Utara, Jumat (25/7/2014). | Foto: NBC/Onlyhu Ndraha

LOTU, NBC – Orangtua di Nias umumnya mengebiri hak bicara anak di keluarga. Harusnya, rumah merupakan ruang lingkup yang cukup kondisuf buat anak. Jika sudah dibiasakan anak-anak diberi kesempatan bersuara, di luar pasti tidak akan terjadi pengengkapan terhadap hidup anak. Orangtua wajib memahami tanggung jawabnya untuk melindungi anak.

Hal ini disampaikan pimpinan Wanaha Visi Indonesia (WVI) Nias Portunakas Bahat Tamba, saat acara peringatan Hari Anak Nasional (HAN), Jumat (25/7/2014), di Rumah Pintar Enoni di Lotu Kabupaten Nias Utara.

“Jika kami berdiskusi dengan Forum Anak Nias (Forani), kami bertanya begini, ‘Adik-adik, seperti apa diberi kesempatan bersuara di rumah?’ Rata-rata jawabannya apa, ‘kami bicara sudah dibilang diam kau, kau tidak tahu apa-apa’. Hak anak bersuara dikebiri dari rumah,” ujar Porunakas pada acara yang dihadiri ratusan anak dan juga orangtua tersebut.

Menurut dia, lingkungan yang cukup kondusif buat anak sebenarnya di rumah. Jika dari rumah sudah diberi kesempatan bagi anak untuk bersuara dengan nilai-nilai luhur budaya, tidak akan memikirkan hal-hal negatif terhadap orang lain.

Tema perayaan HAN 2014 oleh WVI yang dipusatkan di Kabupaten Nias Utara adalah “Budayakan Pribadi yang Sehat untuk Lingkungan yang Sehat”.

Anak-anak, kata Portunakas, tak sedikit yang menyatakan bahwa di rumah mereka juga sering dipukuli oleh orangtua mereka. “Apakah hal seperti ini untuk mendidik anak?” kata Portunakas di hadapan para orangtua yang mengikuti acara tersebut.

Pada peringatan HAN, yang jatuh pada 23 Juli 2014, WVI selalu menyuarakan dan mengampanyekan gerakan “Stop kekerasan terhadap anak”. “Saya mengajak semua orangtua untuk berhenti melakukan kekerasan terhadap anak,” ujarnya.

Belajar dari pengalaman, kata Portunakas, orang yang sering melakukan kekerasan terhadap anak sebenarnya orang yang cukup dikenal oleh anak yang bersangkutan, antara lain, orangtuanya, pamannya, bapak tirinya, tetangganya. Artinya, lingkungan yang cepat dijangkau untuk kondusif rumah tangga dan sekitarnya.

Ingatkan Sisi Negatif

Di tempat yang sama, Sekretaris Daerah Kabupaten Nias Utara Haogösökhi Hulu, Bupati Nias Utara Edward Zega, mengatakan kiranya kampanye melindungi hak anak tidak berlebihan. Selain memiliki nilai positif juga muncul sisi negatif.

“Kampanye berlebihan tentang hak-hak anak tidak hanya berdampak positif juga bisa berdampak negatif. Sekarang ini banyak orangtua mengeluh anak-anaknya tidak bisa disuruh mencuci piring dan menyapu. Nanti dijawab, anak-anak tidak boleh bekerja. Di sekolah anak-anak malah mempermainkan guru. Padahal, dalam Alkitab telah tertulis, anak yang disayangi harus dipukul dengan rotan,” kata Haogösökhi.

Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kata Haogösökhi, sekarang ini cenderung anak-anak hidup bebas tanpa memedulikan nasihat orangtua dan guru. “Jika guru memberikan teguran nanti dikira pelanggaran hak anak. Terutama anak gadis di Nias sekarang ini tidak tahu memasak,” ujarnya.

Menurut Haogösökhi, perlindungan terhadap anak bukan berarti tidak boleh diatur atau disuruh kerja. Sebab, jika seorang anak tidak dididik sejak kecil untuk berlatih kerja bagaimana bisa di kemudian hari dapat bekerja. “Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”.

Memberi perlindungan terhadap hak anak, kata Haogösökhi merupakan tugas bersama yang wajib dihormati dan dijamin oleh pemerintah dan masyarakat. Oleh karena itu, yang perlu dikembangkan dalam diri seorang anak adalah keimanan, kecerdasan, keterampilan, dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Haogösökhi berharap, kiranya generasi muda menjauhkan diri dari obat-obat terlarang karena merusak masa depan. Semoga menjadi anak yang kreatif berbakti kepada orangtua, berbudi pekerti luhur, hormat kepada guru-guru, serta menyangi teman-teman.

Tentang Kekerasan

Salah seorang anak didik WVI Nias, Yanti Hulu dari Alasa, mengatakan bahwa dengan adanya program WVI, dia bisa memiliki kretivitas seperti pengetahuan dan keterampilan mengenai salon. “Saat ini yang tengah dikembangkannya menjadi pelatih salon bagi yang lain. Namun, mendidik anak dengan cara kekerasan seperti dipukul saya kurang sepakat. Sebab setiap anak punya karakter yang berbeda,” katanya.

Hal yang sama juga dikatakan Yanto Harefa dari Desa Baho, Kecamatan Lotu, sebelumnya di desa tempat ia tinggal anak-anak kurang semangat untuk sekolah serta menjaga kebersihan. “Sekarang dengan adanya WVI, anak-anak di desaku banyak yang giat sekolah serta menjaga lingkungan bersih,” kata Yanto. [NDH]

Related posts