KESEDERHANAAN

Bazisõkhi Zebua, Setia Bersepeda…

Bazisökhi Zebua berfoto dengan sepeda hadiah dari Wali Kota Gunungsitoli. | Foto: NBC/Anoverlis Hulu

Bazisökhi Zebua berfoto dengan sepeda hadiah dari Wali Kota Gunungsitoli. | Foto: NBC/Anoverlis Hulu

NBC — Tanggal 17 Agustus 2014 menjadi hari yang tidak terlupakan bagi Bazisõkhi Zebua. Niat menonton upacara penurunan bendera di Lapangan Merdeka, Gunungsitoli, bersama teman akhirnya urung. Sebuah telepon memintanya datang ke Lapangan Pelita, Gunungsitoli, karena akan menerima “sesuatu” dari Wali Kota Gunungsitoli. Kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata ini seketika menyelimutinya.

Betul saja. Sore itu, seusai acara penurunan bendera (aubade) Kota Gunungsitoli di Lapangan Pelita, namanya disebut untuk menerima penghargaan dan hadiah spesial dari orang nomor satu di kota ini. Bazisõkhi, yang akrab dipanggil Ama Christoffel memperoleh penghargaan dan sebuah sepeda atas kesetiaannya bersepeda selama 38 tahun. Keberuntungan ini datang lewat program “Jumat Bersepeda” yang dicanangkan Wali Kota Gunungsitoli. (Baca: Setiap Jumat, Pegawai Wajib Naik Sepeda ke Kantor)

“Saya tidak pernah menyangka. Memang sudah kian diberitahu dari panitia bahwa saya akan menerima sesuatu dari Wali Kota Gunungsitoli,tetapi saya tidak menduga memperoleh hadiah sepeda,” ujarnya sambil tertawa. Matanya yang berbinar dengan jelas menunjukkan rasa tak percaya sekaligus bahagia masih menyelimutinya saat ditemui NBC di tempat kerjanya siang itu (25/8/2014).

Kini, sepeda yang baru seminggu dimilikinya itu menjadi teman setia yang mengantarnya ke tempat kerja. Dengan bangga, ia memarkir hadiah berharga itu di depan kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Nias, tempat ia bekerja. Meski bagi orang kebanyakan sepeda itu hanyalah sesuatu yang biasa, tetapi baginya tidak. Tak hanya karena harganya yang mahal, tetapi si pemberi hadiah yang nyatanya adalah orang penting menjadikannya wajib menjaga sepeda tersebut dengan sepenuh hati.

Lebih Hemat

Selama 38 tahun, sepeda mengantarnya ke sekolah, ke tempat kerja atau saat berbelanja ke pasar untuk membeli kebutuhan rumah dan pakan ternak babi miliknya. Sepeda sudah menemani hari-hari Bazisõkhi sejak masuk ke Sekolah Teknik Menengah (STM) pada 1976. Ia tidak ingat berapa harga sepeda pertamanya tersebut. Namun, sepeda ini sangat berguna mengantarnya kemanapun ia pergi.

Ini berlanjut hingga ia diangkat menjadi PNS pada 1981. Jarak antara rumah dengan kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud—sekarang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan), yang saat itu berlokasi di belakang Kantor Polisi Militer (PM) Gunungsitoli, menjadikan ia masih tetap mengandalkan sepeda.

“Paling hanya butuh waktu sekitar 15 menit, jadi tidak terlalu capek. Ke tempat kerja juga bisa sampai lebih cepat karena bisa lewat dimana saja,” kata ayah enam anak ini.

Hingga menikah dengan sang istri, Yustina Zebua, pada 1989, sepeda tetap menjadi pilihannya untuk berkendara. Faktor ekonomi menjadikannya lebih memilh mempertahankan sepeda ketimbang beralih ke kendaraan bermotor. “Kan lebih hemat, tidak perlu memikirkan uang bensin. Naik sepeda juga lebih enak karena kita bebas jalan di mana saja tanpa perlu memikirkan apa pakai helm atau punya SIM,” ujarnya sambil tertawa.

Mengensampingkan keinginan untuk mendapatkan kendaraan yang lebih baik, sepeda pertamanya ini pun tetap ia gunakan meski mengalami kerusakan fatal yakni patah. Sepeda itu bahkan harus dilas hingga dua kali. Sayangnya, yang namanya sepeda tua tentu sulit dipertahankan. Untungnya, sang abang akhirnya memberikan sepeda miliknya kepada Bazisõkhi. Sepeda itulah yang seterusnya setia menemani perjalanannya hingga hari sebelum ia memperoleh sepeda pada Hari Ulang Tahun Ke-69 Kemerdekaan RI itu.

Lucunya, walau sudah memiliki sebuah sepeda motor ia mengaku sampai saat ini belum bisa mengendarai sepeda motor. Kendaraan beroda dua itu digunakan oleh anak keduanya yang saat ini sedang menyelesaikan studinya di STIE Pembnas Nias, Gunungsitoli. Sementara untuk perjalanan jauh yang mengharuskan menggunakan kendaraan bermotor, ia terpaksa meminta bantuan teman-teman atau anaknya untuk mengantar.

“Tapi, kalau rencana pemindahan ibukota Kabupaten Nias ke Bawõlato jadi, saya harus membeli sepeda motor karena perjalanannya sudah sangat jauh,” kata pria yang juga memiliki usaha batu bata dan peternakan babi kecil-kecilan ini.

Wali Kota Gunungsitoli Martinus Lase saat menyerahkan hadiah sepeda kepada Bazisokhi Zebua. | Foto: NBC/Anoverlis Hulu

Wali Kota Gunungsitoli Martinus Lase saat menyerahkan hadiah sepeda kepada Bazisokhi Zebua. | Foto: NBC/Anoverlis Hulu

Namun, tetap saja walau kelak memiliki sepeda motor, ia mengaku kalau sepeda tak akan dilupakannya. Apalagi dengan sepeda baru miliknya sekarang. Ia menuturkan, sepeda itu bahkan tidak diizinkan untuk dipergunakan oleh anak-anaknya untuk jarak jauh. Di kantor juga seperti itu. Sepeda tersebut harus dalam penjagaan ekstra agar tidak diutak-atik oleh tangan-tangan jahil, tidak seperti sepeda lamanya. Bahkan, demi keamanan sepeda tersebut, ia juga tak berani membawanya saat berbelanja ke pasar.

Tetap Setia

Kehidupan Bazisõkhi Zebua kini memang jauh lebih baik. Pandangan umum tentunya bertanya-tanya mengapa ia masih tetap bertahan dengan sepedanya. Padahal, dengan usaha kecil-kecilan yang dimilikinya serta kemudahan dalam angsuran sepeda motor sepatutnya tidak lagi menjadi alasan untuk berhemat.

Namun, ternyata ia tidak berpikiran seperti itu. Pasalnya, ia masih punya tanggung jawab untuk membiayai pendidikan keenam anaknya. Perjuangannya pun tampaknya tidak sia-sia. Selain anak keduanya yang kuliah, anak ketiga juga saat ini sedang mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Agama Kristen (STAK) Gunungsitoli. Sementara anak keempat baru saja menyelesaikan SMA, anak kelima masih sekolah di SMK Negeri 2 Gunungsitoli, dan si bungsu bersekolah di SD Negeri Hilina’a.

Bazisõkhi telah kehilangan anak sulungnya dalam sebuah kecelakaan beberapa tahun lalu. Namun ia mengaku kejadian ini bukan alasan lain untuk tidak menggunakan sepeda motor.

Keberhasilannya dalam menyekolahkan anak-anaknya ini lantas tidak membuat ia malu untuk tetap mempertahankan sepeda tuanya (sebelum mendapat sepeda dari Wali Kota Gunungsitoli). Meski kecenderungan masyarakat apalagi generasi muda yang lebih senang mengendarai sepeda motor tidak membuatnya merasa ketinggalan zaman.

“Anak-anak memang terkadang risih. Tapi, mau bagaimana lagi, memang begitu keadaannya. Selama masih bisa ditempuh dengan jalan kaki atau bersepeda mengapa tidak. Selain untuk kesehatan juga membantu mengurangi polusi udara,” ujar Bapak yang hobi bermain sepak bola ini.

Karena telah menjadi kebiasaan, ia pun tidak pernah merasa lelah saat bersepeda. Ia juga mengungkapkan tak ada tips khusus menjaga tubuhnya agar mampu bersepeda pada usianya yang hampir menuju kepala enam. Ini cukup mengherankan mengingat baru beberapa tahun ia memutuskan untuk berhenti merokok dan minum minuman keras. Tapi, menurut pengakuannya, kebiasaan buruknya itu tidak pernah berdampak pada keselamatannya saat bersepeda.

Namun, Bazisökhi menegaskan, bahwa hidupnya lebih sehat sekarang dibandingkan dengan waktu ia masih “bergaul” dengan minuman beralkohol. “Lebih baik segera berhenti. Minuman keras beralkohol tak baik dan sebaiknya kita hindari. Saya bisa berhenti yang penting ada niat dan sayang pada diri sendiri dan keluarga,” ujarnya.

Beruntungnya,dia tidak pernah mengalami kecelakaan walaupun ia dalam pengaruh alkohol. “Karena bersepeda sudah menjadi bagian hidup saya tidak hanya mengantar ke mana-mana,tetapi juga mengangkut barang-barang berat seperti pakan ternak atau beras,” kata PNS yang telah menerima tanda jasa pengabdian 30 tahun sebagai pegawai pada 17 Agustus 2013 lalu.

Sayangnya, dengan bentuk sepeda yang ia miliki sekarang tidak memungkinkan lagi untuk mengangkut barang-barang berat tersebut. Apalagi, kebetulan barang-barang berat yang ia maksud sudah tersedia di toko yang berada tidak jauh dari rumahnya.

“Kualitas sepeda dulu dengan sekarang memang beda. Kalau dulu masih kuat untuk mengangkut dedak atau beras,tetapi sekarang sudah tidak,” ujarnya.

Tentunya Bazisõkhi tidak pernah merencanakan untuk mendapat penghargaan atas kesetiaannya bersepeda. Ini adalah keberuntungan yang mungkin tidak akan terulang lagi. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Wali Kota Gunungsitoli yang telah memberikan penghargaan dan hadiah sepeda kepadanya.

Memang, ia bukan seorang pebalap sepeda atau orang yang punya prestasi membanggakan. Ia hanyalah warga masyarakat biasa. Namun, kesetiaan dan kesederhanaannya telah memberikan keberuntungan tak terduga dan mampu menggugah hati.

Semoga saja akan ada Bazisõkhi Zebua berikutnya yang mengikuti jejaknya setia dengan sepeda. Bukan untuk mendapat penghargaan melainkan untuk berhemat, berolahraga dan membantu mengurangi polusi udara. [ANOVERLIS HULU]

Biodata Singkat

Nama lengkap: Bazisõkhi Zebua

Nama panggilan: Ama Christoffel Zebua

Tempat, tanggal lahir: Hilina’a, 7 Desember 1959

Alamat: Desa Hilina’a, Kecamatan Gunungsitoli

Pekerjaan: PNS Dinas Pendidikan Kabupaten Nias

Istri: Yustina Zebua

Anak: 6 orang, 4 laki-laki dan 2 perempuan. [ANO]

Related posts