KEPARIWISATAAN NIAS

Empat Lokasi Ini Jadi Unggulan Wisata Kota Gunungsitoli

Museum Pusaka Nias | Foto: museumku.wordpress.com

Museum Pusaka Nias | Foto: museumku.wordpress.com

GUNUNGSITOLI, NBC — Pasca-pelaksanaan Lokakarya Nasional Pengembangan Kepariwisataan Nias pada 17-18 Juni 2014, Pemerintah Kota Gunungsitoli juga mulai menata kepariwisataannya. Langkah awal yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah tersebut adalah dengan menetapkan beberapa lokasi unggulan yang menjadi ikon Kota Gunungsitoli.

Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kota Gunungsitoli, Pintar Zebua, kepada NBC, mengemukakan, ada empat lokasi unggulan yang ditetapkan berdasarkan ciri khas yang tidak dimiliki daerah lain. Keempat tujuan wisata tersebut adalah Pantai Hoya, Goa Tõgindrawa, Desa Tumõri, dan Museum Pusaka Nias.

Museum Pusaka Nias | Foto: http://www.museum.pusaka-nias.org

Museum Pusaka Nias | Foto: http://www.museum.pusaka-nias.org

“Untuk Pantai Hoya sebenarnya ikut menggabungkan dua obyek wisata lainnya, yakni Muara Indah dan Pantai Charlita. Makanya Pantai Hoya ini disebut juga sebagai kawasan wisata bahari di Desa Teluk Belukar, Kecamatan Gunungsitoli Utara. Pemilik Pantai Hoya sudah menyatakan kesiapannya bekerja sama dengan investor mana pun,” kata Pintar Zebua saat ditemui di Kantor Disparbudpora Kota Gunungsitoli, Jl. M. Yamin, Gunungsitoli, Selasa (8/7/2014).

Selain menetapkan keempat lokasi tersebut sebagai zona wisata unggulan Kota Gunungsitoli, pihaknya juga telah mengajukan permintaan dana senilai Rp 20,5 miliar kepada pemerintah pusat. Pintar Zebua menjelaskan, permintaan dana ini ditujukan untuk pembangunan fasilitas wisata air di Muara Indah di antaranya kolam renang, water boom, dan tempat pemancingan senilai Rp 14,5 miliar serta Rp 6 miliar untuk penataan Gua Tõgindrawa.

“Lokasi wisata lainnya, seperti Desa Adat di Tumõri dan Museum Pusaka Nias, juga sudah menjadi perhatian dari pemerintah pusat. Namun, anggaran untuk itu belum diajukan. Untuk saat ini pembenahan di kedua lokasi tersebut masih dilakukan oleh pemerintah daerah. Misalnya melalui program PNPM Mandiri Pedesaan dan bantuan dari Pemerintah Kota Gunungsitoli. Kita akan tunggu seperti apa hasil keputusan dari pemerintah pusat tentang anggaran untuk keempat lokasi wisata ini,” ujarnya.

Sebagai rangkaian kegiatan memajukan kepariwisataan, tambah Pintar Zebua, Disparbudpora Kota Gunungsitoli juga akan kembali melaksanakan Pemilihan Duta Wisata 2014 yang sebelumnya adalah Pemilihan Putri Pariwisata. Pemilihan Duta Wisata ini akan menghasilkan sepasang wakil Kota Gunungsitoli untuk mendukung pemerintah daerah dalam memperomosikan pariwisata yang disebut Sibolowua (untuk Putri) dan Sila’i (untuk Putra).

Pemilihan Duta Wisata 2014 Kota Gunungsitoli ini akan dilaksanakan bertepatan dengan peringatan Hari Pariwisata Dunia yang selalu diperingati pada 27 September mendatang.

Pelatihan Budaya

Tidak hanya mempersiapkan kepariwisataan, Pintar Zebua mengungkapkan bahwa Disparbudpora Kota Gunungsitoli juga akan menyelenggarakan pelatihan tentang budaya pada 16-17 Juli 2014.

“Pada pelatihan ini peserta akan diberikan pengetahuan tentang tata cara perkawinan adat Nias dari awal hingga selesai, khususnya di kota Gunungsitoli yang kelihatannya sudah mulai semrawut. Misalnya bagaimana Fangowai atau Fame’e Laeduru,” kata Pintar Zebua.

Pelatihan ini, menurut rencana, akan diikuti oleh ratusan peserta yang berasal dari 6 kecamatan se-Kota Gunungsitoli dengan latar belakang tokoh adat, budayawan, dan tokoh masyarakat. Pelatihan budaya yang masih belum ditentukan lokasi pelaksanaannya tersebut akan menghadirkan narasumber dari Lembaga Budaya Nias (LBN) Kota Gunungsitoli. [ANO]

Related posts