KOMUNITAS

Mengefektifkan Nias Diaspora

Diaspora Nias tersebar di mana-mana dari Sabang sampai Merauke. Komunitas Tionghoa asal Nias di Jabodetabek, beberapa waktu lalu, berkumpul di Jakarta berkumpul untuk lepas kangen. | Foto: NBC/Apolonius Lase

NBC — Menarik, sebuah istilah yang penting dikemukakan oleh Pdt. Tuhoni Telaumbanua, beberapa waktu yang lalu, di awak tahun 2014, yaitu Nias Diaspora (NBC, 3/2/2014). Bagi Eporus BNKP tersebut, Nias diaspora adalah tanggung jawab masyarakat Nias di mana pun mereka berada melalui kiprah dan kontribusi yang aktif. Sebuah seruan yang sangat penting untuk didengarkan.

Akan tetapi, bisakah kita menggunakan istilah tersebut untuk sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat di Kepulauan Nias sendiri? Saya coba gunakan istilah dan gagasan tersebut untuk mengembangkan Nias diaspora yang bermanfaat dan berguna untuk masyarakat Nias.

Dampak Nias Diaspora

Adalah sebuah kenyataan bahwa masyarakat Nias telah tersebar di seluruh penjuru Nusantara, dari Sabang sampai Merauke. Menurut perkiraan kasarnya, jumlah Nias diaspora—meminjam istilah di atas tadi—mencapai setengah juta orang. Mereka berada di mana-mana, umumnya di Medan dan sekitarnya dan daerah lain yang terjangkau oleh medium transportasi.

Nias diaspora adalah sebuah fenomena umum. Dalam perkembangan yang semakin memudahkan orang bepergian dari suatu tempat ke tempat lain, Nias diaspora semakin meluas. Namun, di balik fenomena Nias diaspora ini, ada sebuah masalah besar, yaitu brain drain.

Fotarisman Zaluchu. | Foto: Dokumen Pribadi

Fotarisman Zaluchu. | Foto: Dokumen Pribadi

Istilah “brain drain” amat terkenal sejak beberapa tahun belakangan ini, untuk menjelaskan gejala tergerusnya orang-orang pintar di sebuah negara karena dipakai atau dimanfaatkan oleh negara lain. Pindahnya mereka yang berkualitas—karena mereka umumnya adalah orang muda yang pintar dan terdidik—dari sebuah negara karena alasan yang bervariasi. Di antaranya akibat konflik, perang, tekanan politik, atau karena memang pilihan pribadi. Hal ini terlihat dari negara-negara Afrika yang terus-menerus terlibat di dalam perang dan konflik, banyak di antaranya kemudian memilih hengkang karena tidak ada jaminan kehidupan.

Di negara-negara Asia yang minim konflik, fenomena brain drain memang bukan karena tekanan fisik, melainkan lebih pada bayangan masa depan dan kehidupan yang lebih memadai di negara tujuan. Di Eropa, sekarang ini negara-negara dari Asia Selatan semisal India sudah menjadi warga negara penting yang diperhitungkan karena kontribusinya di berbagai sektor. Di Amerika, negara-negara dari Asia Timur juga sudah memperlihatkan, bagaimana prestasi mereka bisa mengangkat derajat ekonomi dan sisi-sisi sosial kebudayaan lainnya.

Indonesia, jelas bukan negara yang berada dalam konflik, tetapi tidak mampu memberikan dukungan yang memadai pada mereka yang berprestasi. Karena itu, ribuan orang muda dari Indonesia kemudian mencari prestasi di negara lain dengan menggunakan kesempatan beasiswa yang sangat banyak tersedia bagi mereka yang sedia berkompetisi dan menjajal kemampuan.

Setiap tahun, negara-negara Eropa memberikan ribuan kursi untuk bersekolah di jenjang pendidikan tinggi kepada negara-negara Asia Tenggara. Secara khusus kepada Indonesia, Pemerintah Inggris, melalui skema beasiswa bilateral, memberikan dukungan kepada 30-40 orang. Pemerintah Belanda juga tidak mau kalah. Mereka memberikan beasiswa yang sama kepada orang-orang muda berbakat dari Indonesia, sebagaimana halnya diberikan oleh Jerman, Australia, dan Amerika Serikat. Beasiswa dari Taiwan, Hongkong, dan Tiongkok juga mulai atraktif. Itu disediakan setiap tahun.

Beberapa di antaranya memang tanpa ikatan apa-apa. Artinya, sesudah menyelesaikan pendidikan, mereka yang menerima beasiswa hanya diminta pulang untuk memberikan kontribusi kepada negaranya. Akan tetapi, kemudian tidak ada jaminan bahwa mereka yang sudah menyelesaikan pendidikan akan pulang ke negaranya (Indonesia). Mereka yang mengecap pendidikan dan budaya luar negeri, akan mudah berpikir untuk mencoba menjajal kemampuan dengan bekerja di negara tersebut. Lalu beberapa di antaranya yang berprestasi kemudian ditawarkan untuk bekerja dan berkiprah di negara tersebut, sebagai tenaga pengajar atau peneliti.

Fenomena brain drain di atas dapat terlihat pula dari perkembangan di Kepulauan Nias. Hari-hari ini, saya mencermati, semakin banyak SDM dari Pulau Nias memasuki dunia pendidikan tinggi dengan berbagai jenjang pendidikannya masing-masing. Mereka yang mendapatkan beasiswa—entah dari mana pun itu—atau karena dana sendiri, tidak sedikit di antaranya kemudian memilih berkarier di tempat lain, di luar Pulau Nias. Itu baru dari mereka yang memasuki lembaga pendidikan. Bagaimana juga dengan mereka yang sudah terlebih dahulu menjadi Nias diaspora dan membangun karier bahkan usaha di tempat yang jauh dari Pulau Nias?

Fenomena brain drain SDM suku Nias yang saya jelaskan di atas, terjadi memang kebanyakan masih sebatas pada level Indonesia. Lokasinya umumnya arus perpindahan orang Nias masih di wilayah dalam negeri saja. Namun, sudah terbukti dan terlihat bahwa orang-orang Nias yang sudah terdidik di sejumlah lembaga pendidikan tinggi, bekerja dalam bidang IT, bisnis, dan birokrasi, telah memberikan keuntungan bagi lokasi tempat mereka bekerja. Banyak di antara mereka bukanlah pekerja biasa, melainkan mereka yang menduduki posisi strategis dan tidak tergantikan. Saya tidak perlu menyebut nama, di semua lokasi, selalu ada orang Nias yang memegang posisi berpengaruh.

Bagi kita, semuanya sah-sah saja karena ini di satu sisi hal ini memperlihatkan kompetensi orang Nias dalam bersaing dengan orang lain adalah luar biasa. Amat berbeda dengan masa lalu, di mana orang Nias pernah dianggap warga negara kelas dua di sejumlah daerah, termasuk menerima berbagai perlakuan penuh stigma di beberapa wilayah di Sumatera Utara, kini SDM bersuku Nias telah memperlihatkan kiprah dan perannya masing-masing.

Ironi

Akan tetapi, menjadi ironi, ketika kita menyaksikan keberadaan masyarakat di Pulau Nias yang masih jauh dari maju. Hengkangnya orang-orang pintar dari Pulau Nias dan kemudian berkiprah di wilayah lain telah menciptakan brain drain yang merugikan masyarakat Nias di tempat asalnya. Situasi kerja yang lebih terbuka dan luas, ditambah dengan kesesuaian antara apa yang diharapkan dan talenta yang ada, serta peluang untuk mengubah nasib dan masa depan menyebabkan Nias diaspora semakin lama semakin meluas dan meningkat jumlahnya.

Andaikan Nias diaspora telah terjadi pada 1960-an, generasi Nias diaspora sekarang adalah mereka yang merupakan generasi ketiga, yang kakek dan neneknya adalah asli yang keluar dari Pulau Nias. Generasi sekarang adalah orang Nias, tetapi besar bukan di tanah asalnya. Mereka tetap masuk ke dalam Nias diaspora, yang memiliki aliran darah dan keturunan biologis dari Pulau Nias.

Banyak hal yang seharusnya bisa terwujud andaikan Nias diaspora ini bisa berperan dengan baik di Pulau Nias. Di antaranya dalam membangun dan memperbaiki kualitas informasi di Pulau Nias, bukan tidak mungkin ada orang Nias yang mampu mengembangkan teknik tertentu sehingga masyarakat di Pulau Nias cerdas informasi. Lalu, dalam upaya membangun pasar terhadap komoditas unggulan di Pulau Nias, bukan tidak mungkin ada orang Nias yang bekerja dalam bidang pemasaran dan bisnis. Bahkan, dalam membangun generator listrik mandiri di Pulau Nias yang kini menjadi masalah besar di sana, pasti ada orang Nias yang bisa melakukannya.

Belum lagi jika berbagai gagasan mengenai upaya membangun Pulau Nias melalui pembentukan Provinsi Kepulauan Nias yang kini telah menjadi salah satu fenomena penting untuk dicermati. Apakah ruang bagi Nias diaspora telah dibuka lebar sehingga mereka yang telah terdidik dan trampil di luar Pulau Nias itu justru kelak akan mendatangkan keuntungan kepada masyarakat Nias?

Saya sedang tidak ingin membangun spirit sebagai suku Nias yang segala-galanya haruslah dan untuk Pulau Nias. Namun, ada banyak hal yang bisa dikerjakan oleh Nias diaspora andaikan mereka diberikan kesempatan untuk itu. Keberadaan Nias diaspora bisa mempercepat kemajuan Pulau Nias dan mempercepat pula rentang jarak antara keadaan sekarang dan kemakmuran masyarakatnya. Sudah terlalu lama Kepulauan Nias tertinggal dan kesempatan untuk bangkit sesungguhnya ada.

Sayangnya, kesempatan bagi Nias diaspora itu sering dihambat oleh pertama-tama para pemangku kepentingan di Pulau Nias. Sering mereka tidak bisa melihat bahwa Nias diaspora adalah hal yang seharusnya dijadikan potensi untuk maju. Para pemangku kepentingan lupa bahwa membangun Nias itu perlu mengumpulkan seluruh tenaga untuk menanggung upaya itu bersama-sama. Kesan saya, para pemangku kepentingan malah sibuk dengan diri sendiri dan kepentingan sendiri-sendiri, lupa kalau Pulau Nias itu milik bersama dan harus dibangun bersama-sama. Sudah lebih setengah periode, sayangnya arah untuk mengorganisasi Nias diaspora secara serius dan sungguh-sungguh hampir tidak ada.

Berikutnya, salah satu hambatan bagi Nias diaspora untuk mengalirkan energi mereka adalah karena organisasi untuk menyatukan seluruh gerak langkah itu tidak ada. Benar bahwa banyak organisasi yang memberikan warna Nias di dalamnya. Akan tetapi, organisasi itu kebanyakan masih bersifat sosial keagamaan. Ada yang menyentuh ranah politik dan pemberdayaan, tetapi masih belum produktif. Wadah untuk menyatukan seluruh gerakan itu belum benar-benar digjaya seperti kekuatan spirit “Marsipature Huta Na Be (MHB)” di masyarakat Batak dan “Gerakan Seribu Minang (Gebu Minang)” di kalangan suku Minang.

Sulitnya Nias diaspora untuk juga bergabung dan menggabungkan diri dalam satu gerakan membangun Pulau Nias adalah karena masih bercokolnya sikap keasalan. Memikirkan diri sendiri, termasuk marga dan asal masing-masing, menjadi watak yang tidak bisa dilepaskan dari Nias diaspora meski mereka sudah lama berada di luar Pulau Nias.

Peluang

Meskipun demikian, ada banyak peluang. Generasi muda Nias diaspora mungkin dengan kekuatan yang dimilikinya bisa membangun gerakan konkret melalui lembaga pendidikan, lembaga budaya dan atau media pemberdaya lainnya. Selain itu, wadah media semisal NBC sebenarnya bisa berperan penting untuk menciptakan gagasan-gagasan baru kepada seluruh Nias diapora di mana pun mereka tersebar.

NBC bisa menjadi jembatan terhadap peran dan kiprah yang lebih nyata dari Nias diaspora. Jika Indonesia diaspora pernah dibuat, mungkin saja Nias diaspora bisa digagas di sejumlah daerah dengan fokus topik pada hal-hal yang lebih spesifik dan sesuai dengan kebutuhan di Pulau Nias.

Pada pertemuan ini, para pemangku kepentingan seharusnya bisa lebih perduli untuk hadir secara langsung. Nias diaspora, kapan lagi bisa berkiprah jika mereka tidak diberikan kesempatan nyata? [Fotarisman Zaluchu, Mahasiswa Program Doktor di University of Amsterdam, Amsterdam]

Related posts