KEAMANAN BAHAN MAKANAN

Garam yang Dipasarkan UD Ya’ahowu Beryodium

Kadis Deperindagkop dan UMKM Kota Gunungsitoli Anna Dewi Sitorus. | NBC/Irwanto Hulu

Kadis Deperindagkop dan UMKM Kota Gunungsitoli Anna Dewi Sitorus. | NBC/Irwanto Hulu

GUNUNGSITOLI, NBC Setelah melakukan tes terhadap sampel garam yang diambil dari UD Ya’ahowu, Jalan Yos Sudarso, Desa Ombölata Ulu, Kota Gunungsitoli, Rabu (4/6/2014), Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UMKM Kota Gunungsitoli menyatakan bahwa garam yang dipasarkan oleh Asun, pemilik UD Ya’ahowu di Kota Gunungsitoli terbukti adalah garam beryodium.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Perindagkop dan UMKM Kota Gunungsitoli Anna Dewi Sitorus kepada NBC, saat ditemui di kantor Deperindagkop dan UMKM di Jalan Karet, Kelurahan Ilir, Kota Gunungsitoli, Senin (23/6/2014).

“Setelah kami melakukan penelitian dan uji lab terhadap garam yang dijual oleh Asun, Pemilik UD Ya’ahowu, kami tidak menemukan kesalahan. Garam yang siap edar dan telah dibungkus dalam kemasan bertuliskan garam beryodium untuk dijual ke toko-toko ternyata mengandung yodium,” ungkap Anna Dewi Sitorus.

Dia mengakui, garam yang masih dibungkus dalam karung dan sampelnya dibawa  Deperindagkop dan UMKM ketika inspeksi mendadak (sidak) DPRD, adalah garam non-yodium. Akan tetapi, garam dalam kemasan siap edar yang juga ikut dibawa saat itu setelah dites ternyata mengandung yodium.

Menurut Anna Dewi Sitorus, pemilik UD Ya’ahowu memang membeli garam non-yodium yang dikemas dalam karung dari luar Pulau Nias, lalu garam tersebut diolah dan dicampur dengan cairan yodium digudang UD Ya’ahowu sehingga garam yang tadinya tidak beryodium tersebut menjadi garam beryodium.

Garam yang telah diolah tersebut, kata Anna, dibungkus dalam kemasan yang bertuliskan garam beryodium dan kemudian dipasarkan di Kota Gunungsitoli.

Setelah melakukan uji lab terhadap sampel garam yang telah diambil saat sidak beberapa  minggu yang lalu, Anna menyatakan bahwa garam yang diedarkan UD Ya’ahowu dalam kemasan di Kota Gunungsitoli adalah garam beryodium dan layak dikonsumsi masyarakat.

Seperti diberitakan NBC sebelumnya, saat DPRD Kota Gunungsitoli melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah pasar, DPRD bersama Deperindagkop dan UMKM menemukan garam yang diduga non-yodium dan telah dikemas dalam plastik bertuliskan garam beryodium di gudang milik Asun, Rabu (4/6/2014).

Untuk membuktikan, apakah garam yang dipasarkan tersebut layak dikonsumsi atau beryodium, Deperindagkop dan UMKM Kota Gunungsitoli kemudian membawa sampel garam dalam karung plastik yang bertuliskan non-yodium dan garam yang telah dikemas dalam plastik bertuliskan garam beryodium. [WAN]

Related posts