“Pemberontakan” Kaum Muda di Nias Kehilangan Makna

Oleh Marinus Waruwu, S.S, M.Pd

Ilustrasi pemberontakan remaja. | Foto: http://www.sinarharian.com.my/

Ilustrasi pemberontakan remaja. | Foto: http://www.sinarharian.com.my/

NBC — “Pemberontakan” kaum muda di Nias mengkhawatirkan. Berbagai fenomena perilaku anak baru gede  atau iraono sibohou ebua di Nias, seperti kasus narkoba, pemerkosaan, hamil di luar nikah, kawin lari, pencurian, perkelahian, toto gelap, judi, pembunuhan, dan juga kasus-kasus pemerkosaan yang melibatkan pemuda Nias, seperti dimuat di salah satu koran harian nasional, beberapa waktu lalu, cukup menjadi refleksi tersendiri bagi kita bahwa perkembangan gaya hidup dan perilaku iraono sibohou ebua  di Pulau Nias menjurus ke hal-hal negatif, bahkan mematikan.

Selain kita mencemaskan masa depan mereka, gaya hidup dan perilaku kaum muda ini juga sudah menyimpang jauh dari tata nilai dan budaya masyarakat Nias yang masih berpegang teguh tradisi, nilai-nilai agama, dan moralitas kristiani.

Dalam refleksi penulis, berbagai peristiwa yang melibatkan sebagian besar kaum muda di Nias, seperti kasus narkoba, pemerkosaan, hamil di luar nikah, kawin lari, pencurian, perkelahian, togel, judi, pembunuhan, mengindikasikan telah terjadi pergeseran orientasi tata nilai di tengah-tengah masyarakat Nias. Nilai-nilai leluhur, adat istiadat, dan nilai-nilai moralitas kekristenan seolah dilabrak dan dilindas habis oleh gaya hidup dan perilaku kaum muda masa kini di Pulau Nias.

Dalam konteks inilah, penulis berkesimpulan bahwa para kaum muda Nias sedang melakukan “pemberontakan” habis-habisan terhadap keteraturan tatanan nilai-nilai tradisional dan konservatifme agama/moralitas/budaya itu.  Tata nilai yang dianggap suci dan tabu itu dihantam demi budaya baru, serba bebas dan instan. Kesimpulan ini masih bisa diperdebatkan.

Berdasarkan pengamatan penulis, beberapa contoh perilaku kaum muda memberontak terhadap tata nilai tradisional di Nias.

Pertama. fenomena kawin lari. Budaya dan adat-istiadat Nias (Ono Niha) sangat menjunjung tinggi, menghargai sebuah pernikahan resmi. Pernikahan pun harus meriah, dirayakan dan dipestakan entah di gereja atau di rumah adat  dengan segala pernak-perniknya, termasuk dengan sistem böwö di dalamnya. Namun, kaum muda Nias saat ini cenderung mengabaikan bahkan memberontak terhadap keteraturan ini. Mereka cenderung mencari jalan sendiri di luar tatanan adat-istiadat, kekristenan itu. Mereka ingin lepas bebas dari budaya dan agama yang mengikat. Mereka pun kawin lari dan membuat aturan sendiri.

Dari kejadian itu kita pun harus bertanya, mengapa fenomena kawin lari di Nias cukup tinggi? Apa yang salah dengan adat/böwö dan agama? Sejauh mana peran tokoh adat, agamawan, pemerintah dalam memberikan penyadaran?

Kedua, kasus-kasus pemerkosaan. Nias terkenal dengan adat-istiadat yang kental dan identik dengan moralitas kekristenannya. Ironisnya, ternyata hukum adat dan pesan-pesan moral kekristenan di Nias kurang berpengaruh dalam cara hidup kaum muda. Padahal, adat istiadat Nias sangat menjunjung tinggi hubungan positif laki-laki dan perempuan. Adat istiadat pun memiliki norma-norma/etika tersendiri, bagaimana laki-laki dan perempuan berelasi satu sama lain. Tak jarang pula, norma-norma atau etika relasi laki-laki dan perempuan disertai hukuman bagi para pelanggar. Misalnya, kasus fohorö (hubungan di luar pernikahan), fa`ohe tanga (berpegang tangan), fakea hörö (main mata) dengan perempuan atau laki-laki memiliki hukuman dan ganjaran bagi para pelanggarnya.

Kendati budaya semacam ini penuh dengan kepalsuan, tetapi zaman dahulu  sangat jarang terjadi kasus-kasus menghebohkan yang melibatkan anak muda. Namun, hari-hari ini, kaum muda Nias sudah melabrak dan melindas semua tatanan itu. Para kaum muda bukan lagi hanya fakea hörö (main mata), tetapi mereka menjadikan pemerkosaan sebagai gaya hidup. Ini adalah pemberontakan terhadap tatanan!

Kemuakan dan Budaya popular

Kita sebagai orangtua, penatua gereja, kaum adat, aparat pemerintahan berefleksi dan merenung sejenak mengapa kaum muda Nias semakin menjadi-jadi dalam gaya hidup dan perilaku. Kita harus sadar dan mencari asal muasal penyebab perubahan gaya hidup dan perilaku kaum muda Nias saat ini. Permasalahan ini kita bisa mengatasinya, apabila kita mampu menemukan akar persoalannya, dan tentu saja mengatasinya secara bersama-sama.

Dalam refleksi penulis, salah satu akar persoalan adanya perubahan gaya hidup dan pola perilaku kaum muda Nias adalah “kemuakan”. Kaum muda Nias sepertinya muak terhadap institusi dan tata nilai yang selama ini membentuk dan memformat hidup mereka.

Setiap perilaku dan tindakan mereka menunjukkan adanya kemuakan terhadap budaya kepura-puraan, ketidakotentikkan diri dalam adat-istiadat Nias. Mereka muak terhadap kaum tetua adat yang seolah-olah menjaga kesucian adat-istiadat leluhur, padahal penuh dengan ambisi, kehormatan diri, egoisme, agenda ekonomi, dan lain-lain. Mereka muak terhadap kaum agamawan yang seolah-olah menjadi pewarta keselamatan (salvation), padahal penuh dengan kepura-puraan hidup, kurang keteladanan hidup, tidak otentik diri, dan lain-lain.

Mereka muak terhadap pemerintahan yang seolah-olah memperjuangkan kesejahteraan rakyat, padahal perilaku mereka nihil kejujuran, bersikap koruptif, ambisi kekuasaan, dan ambisi kekayaan, penuh dengan agenda pribadi. Terakhir adalah mereka muak dengan masyarakat yang dipenuhi budaya iri hati, saling menjatuhkan, dan sebagainya.

Selain karena faktor kemuakan terhadap setiap institusi di Nias, pemberontakan kaum muda juga dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menerobos setiap sendi-sendi kehidupan di Pulau Nias. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta semakin derasnya arus budaya populer di segala segi kehidupan menguatkan tekad anak muda melabrak kesucian norma-norma yang selama ini menjadi pegangan masyarakat adat di Pulau Nias.

Kaum muda berani mengambil sikap karena sejujurnya mereka bukan lagi bentukan tradisi/adat-istiadat kuno itu, melainkan mereka dibentuk budaya populer zaman postmodern.

Salah satu filsuf postmodern yang bernama Jean Baudrillard pun pernah menegaskan hal ini beberapa dekade lalu. Manusia-manusia zaman sekarang ini bukan lagi dibentuk oleh nilai-nilai agama/moralitas, melainkan manusia dibentuk oleh pabrik-pabrik imajinasi, seperti fashion, internet, komputer, HP, Facebook, tontotan televisi, Twitter, koran, dan lain-lain. Maka, tidak mengherankan apabila kasus-kasus kekerasan seksual, kawin lari, narkoba, hamil di luar nikah di Pulau Nias, selain karena kebebasan yang kebablasan, juga karena cara berpikir dan berperilaku mereka dipengaruhi tontonan-tontonan televisi, bacaan-bacaan media online yang sering kali tidak mendidik, sebaliknya justru menyesatkan perkembangan segi kognitif, afektif, dan spiritual kehidupan mereka.

Disorientasi Pemberontakan

Berbagai peristiwa negatif yang sebagian besar melibatkan kaum muda di Nias merefleksikan terjadinya disorientasi pemberontakan terhadap tatanan hidup yang mengekang itu. Kasus-kasus seperti terlibat narkoba, pemerkosaan, hamil di luar nikah, kawin lari, pencurian, perkelahian, togel, judi, pembunuhan, pemerkosaan yang menimpa kaum muda menegaskan bahwa pemberontakan terhadap tatanan yang ada di Nias salah arah, disorientasi tujuan. Yang tadinya mereka ingin lepas dari bayang-bayang kekangan institusi, dan adat-istiadat justru membuat mereka kehilangan arah dan harapan. Kaum muda terjebak dalam kebebasan dan kemerdekaan semu, tanpa batas, tanpa aturan (homo homini lupus). Mereka ingin menunjukkan pada seluruh dunia bahwa kaum muda Nias sudah modern, maju dalam berpikir dan bertindak. Namun, kebebasan dan kemerdekaan itu justru kebablasan. Dengan sendirinya, pemberontakan kaum muda Nias kehilangan makna dan arti. Semua sia-sia!

Pemberontakan Sejati

Apa itu pemberontakan sejati dalam konteks kaum muda di Nias saat ini? Pemberontakan sejati adalah pemberontakan yang memiliki nilai-nilai hidup yang diperjuangkan. Dia memiliki tujuan dan arah yang jelas. Gagasan dan idealismenya bersifat positif dan mengarah pada kemajuan. Dia mengungkapkan kebebasan dan kemerdekaan, tetapi di sisi lain dia menjunjung tinggi self control, memiliki aturan main.

Kemunculan zaman Renaisans di Eropa sekitar abad 15-16 berawal dari pemberontakan masyarakat Eropa terhadap tatanan agama/tradisi yang bersifat mengekang, padahal membuat masyarakatnya mengalami kebodohan/kemiskinan, kurang kreatif, produktif, dan lain-lain. Maka Renaisans adalah zaman kebangkitan kembali, di mana manusia memberikan tempat bagi nalar manusia untuk berpikir dan bersikap kreatif dalam hidup. Keberadaan dunia modern, yang begitu canggih, dengan segala kemajuan yang diraihnya berawal dari zaman Renaisans, di mana manusia sebagai pusat, dan tidak terjebak pada institusi-institusi lama yang cenderung mengekang dan menghasilkan kebodohan.

Pemberontakan kaum muda di Nias tidak harus sama persis seperti apa yang dialami pada zaman Renaisans. Namun, kita bisa meneladani nilai-nilai yang diperjuangkan pada zaman Renaisans itu sehingga mereka mampu mengubah kehidupan masyarakat secara lebih baik. Karena itu, pemberontakan sejati kaum muda Nias seyogianya adalah pemberontakan terhadap kemiskinan, ketertinggalan dalam pendidikan, ketertinggalan ekonomi, ketertinggalan budaya, pemberontakan dari sikap rendah diri/iri hati, pemberontakan terhadap sikap koruptif, dan sebagainya.

Pemberontakkan semacam ini tentu memiliki tujuan yang positif. Bahwa kaum muda Nias sudah saatnya bangkit dari keterpurukan hidup saat ini. Kaum muda Nias sudah cukup berada dalam bayang-bayang kemiskinan dan ketertinggalan dalam segala bidang kehidupan. Sekarang saatnya memulai sesuatu yang positif. Meraih cita-cita. Mengejar mimpi demi masa depan yang lebih baik. Ini adalah inti pemberontakan sejati! [MARINUS WARUWU, S.S, M.Pd, Pengamat Pendidikan, Tinggal di Bandung]

Related posts