Guru SMP dan SMA Kabupaten Nias Ikut OSN

GIDÕ, NBC — Sebanyak 77 guru SMP dan SMA di Kabupaten Nias mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) Guru 2014, Rabu (28/05/14) di SMA Negeri 1 Gidõ, Jalan Karya No.3 Hiliweto Gidõ. Mata pelajaran yang dilombakan terdiri dari IPA dan Matematika untuk tingkat SMP, Fisika, Kimia dan Matematika untuk tingkat SMA.

Para penguji terdiri dari Pengawas Rumpun Mata Pelajaran SMP yakni D. Yani Zebua dan  Herta Manurung. Sementara penguji guru tingkat SMA terdiri dari tiga dosen IKIP Gunungsitoli yakni Amin Otoni Harefa, Temali Hulu dan Siari Gulõ.

Salah seorang penguji, D.Yani Zebua mengingatkan agar para juara tidak berbangga diri dengan prestasi yang dimiliki. Hal ini dikarenakan selain nilai yang diperoleh masih rendah, tingkat kesulitan soal yang disajikan masih sangat jauh bila dibanding di tingkat provinsi.

“Seharusnya ada ujian praktek karena di tingkat provinsi nanti tidak hanya ujian tertulis seperti ini. Jadi bapak ibu jangan bangga dengan hasil yang diraih karena tingkat kesulitan soal di provinsi jauh lebih tinggi dari yang kami buat,” ujarnya.

Selain itu, ketidakpastian adanya pembekalan bagi guru yang akan diutus ke tingkat provinsi juga dikhawatirkan bagi utusan kabupaten Nias. Oleh karena itu, Yani meminta agar para  pemenang dapat membekali diri sendiri dengan soal OSN Guru yang tersedia di internet.

Temali Hulu juga mengemukakan, minat para guru untuk mengikuti kompetisi semacam ini masih rendah. Menurut dia hal ini dipengaruhi oleh faktor timbal balik yang belum dirasakan oleh peserta.

Oleh karena itu ia meminta agar pemerintah daerah memberikan beasiswa S2 bagi para guru di Kabupaten Nias yang berhasil masuk 5 besar di tingkat provinsi, sehingga guru-guru semakin termotivasi untuk berkompetisi. Selain itu ia meminta panitia dapat menyampaikan kisi soal OSN jauh hari sebelum pelaksanaan, sehingga para guru dapat mempersiapkan diri lebih maksimal.

Menjawab hal tersebut, Kepala Bidang Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) Dinas Pendidikan Kabupaten Nias Odaligõ Bate’e mengemukakan, akan menyampaikan masukan tersebut. Terkait tentang kisi soal yang tidak diberikan, ia mengatakan hal itu sengaja dilakukan agar para guru dapat mempersiapkan diri lebih maksimal.

Adapun nama-nama pemenang OSN Guru SMP dan SMA di Kabupaten Nias 2014 yaitu Meimanius Waruwu, guru IPA SMP Negeri 1 Hiliduho dan Kurnia Pitiyati Zega, guru Matematika SMP Negeri 1 Gidõ. Sedangkan untuk tingkat SMA diraih oleh Relisa Filiana Siringo-ringo, guru Kimia SMA Negeri 1 Gidõ, Yasani Zebua, guru Matematika SMA Negeri 1 Gidõ dan Memori Gea, guru Fisika SMA Negeri 1 Hiliduho.

Guru Harus Jadi Idola

Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Nias, Fabualasa Laoli, saat membuka secara resmi kegiatan tersebut mengemukakan, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi aktualisasi diri guru untuk meningkatkan dan mengasah kemampuan. Dengan demikian, kegiatan yang selalu dilaksanakan setiap tahun ini hendaknya dimanfaatkan untuk mengetahui sejauh mana penguasaan guru terhadap bidang ilmunya masing-masing.

Di sisi lain, Fabualasa Laoli menyinggung empat tingkatan guru berdasarkan teori Robert Kiyosaki tentang kuandran guru. Ke-empat tingkatan guru itu adalah guru pekerja, guru profesional, guru pemilik dan guru perancang.

Namun, lanjut Fabualasa, seorang guru yang paling baik apabila guru tersebut mampu menjadi Guru Perancang. Guru perancang adalah guru yang tidak hanya professional dan menyenangkan akan tetapi memiliki visi mencerdaskan kehidupan masyarakat. Singkatnya, Guru Perancang disebut juga sebagai guru idola.

“Tingkatan guru yang paling baik itu adalah Guru Idola. Tidak hanya memikirkan bagaimana mengajar namun bagaimana menciptakan ide kreatif yang dapat dimanfaatkan untuk membantu dunia pengajaran. Oleh karena itu seorang guru perlu melakukan terobosan atau menyusun karya ilmiah untuk bisa mencapai tingkatan ini,” ujar Fabualasa.

Tambahnya, mulai 1 April 2014 lalu guru yang akan naik pangkat dari golongan IIIa ke IIIb diwajibkan menulis. Meski ia mengkhawatirkan akan terjadi penumpukan jumlah golongan IIIa, tetapi Fabualasa menegaskan hal tersebut dilakukan untuk mendorong para guru meningkatkan kualitasnya. [ANO]

Related posts