KEPENDIDIKAN

Peluang Profesionalisme Guru di Pulau Nias

Oleh Marinus Waruwu

Guru

Ilustrasi: sditizzis.blogspot.com

NBC “No Teacher, no education no economic and no development, Ho Chi Minh (Bapak Bangsa Vietnam)

Saat ini situasi sumber daya manusia di Pulau Nias berada dalam fase kritis, sangat memprihatinkan. Beberapa survei Nasional ataupun tingkat Provinsi Sumatera Utara selalu menempatkan Pulau Nias di urutan terbawah dalam hal pengembangan sumber daya manusia.

Penyebab kondisi sumber daya manusia rendah di Pulau Nias sangat kompleks. Bukan hanya karena absennya political willing dari para penguasa di Pulau Nias, melainkan juga disebabkan ulah pemerintah pusat dan provinsi yang masih memandang sebelah mata pengembangan SDM di Pulau Nias.

Keprihatinan atas rendahnya kualitas SDM di Pulau Nias bukanlah semata-mata tanggung jawab pemerintahan daerah dan pusat. Para guru/pendidik sebagai garda terdepan pembangunan SDM memiliki andil atas kritisnya kualitas SDM ini. Tak dimungkiri, keterpurukan kualitas guru ini berpengaruh besar pada rendahnya kualitas SDM. Sebaliknya, guru berkualitas dan profesional dalam menjalankan profesinya akan menghasilkan SDM berkualitas di masyarakat.

Terkait ini, kita perlu belajar dari Negara maju, misalnya pada awal abad ke-19 dan pertengahan abad ke-19, demi mengatasi ketertinggalan dengan negara-negara Barat dalam pembangunan SDM, Jepang dan Korea aktif mengirim para pelajarnya menimba ilmu di dunia Barat. Hasilnya, sangat siginifikan. Para sarjana itu kembali ke negerinya dengan bekal ilmu canggih. Mereka pun berhasil membangun negerinya dan menjadi jembatan tercapainya pembangunan SDM yang tinggi. Kebijakan kedua negara tersebut memang harus ditempuh. Mereka sadar bahwa kualitas guru tertinggal jauh dan harus segera diperbaiki.

Apa itu profesionalisme guru? Jarvis (1992) dalam bukunya tentang profesionalisme guru menjelaskan, profesionalisme guru sebagai “commitmen to the accupational orgnanization and dedication to being masier knowledge and skillfull provider of service stemming form the knowledge upon which the occupation is based”. Profesionalisme berkaitan dengan komitmen profesi seseorang untuk mengembangkan kecakapan profesionalnya, menemukan strategi baru, dan mengembangkan pembelajaran secara berkelanjutan. Seorang profesional harus berbekal keahlian tinggi, memiliki totalitas pelayanan.

Memprihatinkan

Jika profesionalisme berkaitan dengan komitmen, kecakapan/keahlian, kecakapan kepribadian, kecakapan pedagogik, dan kecakapan sosial, maka profesionalisme para guru di pulau Nias dipersoalkan. Mandeknya kualitas lulusan dan mentoknya pembangunan SDM di daerah tercinta karena rendahnya kecakapan guru sesuai tuntutan profesi keguruannya.

Profesionalisme guru di Pulau Nias memang sangat memprihatinkan. Selain karena faktor  eksternal, seperti masalah kesejahteraan, sarana dan prasarana sekolah terbatas, kualitas kepemimpinan pendidikan lemah, dukungan pemerintahan daerah, lingkungan kerja yang tidak sehat, juga karena faktor internal sang guru sendiri, seperti motivasi menjadi guru masih rendah, kepribadian guru tidak mendukung, komitmen terhadap pendidikan rendah, keterampilan mengajar sebisanya, pengetahuan pendidikan yang jauh dari standar kompetensi pedagogik seorang guru.

Beberapa tahun terakhir, cobaan profesionalisme guru di Pulau Nias silih berganti. Penulis mengutip salah satu contoh kasus rendahnya profesionalisme guru dalam hal kepribadian di pulau Nias. Beberapa waktu lalu, Media online Nias-Bangkit.Com (NBC) memuat berita soal tindakan dugaan pelecehan oknum kepala sekolah terhadap peserta didik perempuan di salah satu sekolah dasar di Pulau Nias. Kepala dinas terkait pun bertindak cepat. Sang kepala sekolah diberhentikan secara tidak hormat alias dipecat. Namun, pemberhentian oknum kepala sekolah belum sepenuhnya menjawab keprihatinan publik.

Pascaperistiwa memalukan tersebut, publik justru bertanya-tanya mengapa oknum bersangkutan bisa lolos tes seleksi kepala sekolah? Komptetensi dan indikator apa yang digunakan dinas pendidikan sehingga oknum bersangkutan lolos?

Jika merunut Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 28 Ayat 3, kompetensi guru dan kepala sekolah pada pendidikan dasar dan menengah meliputi, kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Kompetensi kepala sekolah ditambah dengan kompetensi manajerial, kompetensi kewirausahaan, dan kompetensi supervisi.

Seharusnya ketujuh kompetensi ini mutlak menjadi pertimbangan dinas terkait saat melakukan proses seleksi pengangkatan kepala sekolah dan pengangkatan guru. Dinas pendidikan harus menjawab semua keraguan dan keprihatinan tentang permasalahan ini!

Kesejahteraan guru menjadi salah satu tantangan profesionalisme guru di Pulau Nias. Kita prihatin bahwa di Pulau Nias masih terdapat guru berpenghasilan di bawah upah layak minimum per bulan. Akibatnya, guru kurang fokus mengembangkan profesionalisme, keterampilan mengajar di kelas.

Sebaliknya energi guru terbuang memikirkan tambahan penghasilan. Padahal, jika merujuk pada UU Guru No 14/2005 Pasal 52, dengan jelas menyatakan bahwa penghasilan guru di atas kebutuhan hidup minimum yang melekat pada tunjangan profesional, profesi, khusus, kehormatan, dll. Pertanyaannya, mengapa masih terdapat guru yang penghasilannya masih di bawah penghasilan minimum?

Tantangan lain adalah soal sarana dan prasarana. Jujur saja, guru mana pun tidak akan maksimal mengajar dan mendidik apabila kelasnya bocor, ruang kelas roboh, lantai tidak layak, halaman sempit, dan lain sebagainya.

Selain itu, kualitas kepemimpinan pendidikan rendah, dukungan pemerintahan daerah, lingkungan kerja yang tidak sehat, motivasi menjadi guru masih rendah, kepribadian guru tidak mendukung, komitmen terhadap pendidikan rendah, keterampilan mengajar sebisanya, pengetahuan pendidikan yang jauh dari standar kompetensi pedagogik seorang guru.

Beberapa keprihatinan ini menjadi tantangan besar profesionalisme guru di Pulau Nias. Namun, jika kita ingin kualitas sumber daya manusia kita tinggi, semua pemangku kepentingan di Pulau Nias mulai dari pemerintah pusat, dan pemerintah daerah, serta institusi-institusi pendidikan perlu duduk bersama. Dibutuhkan kerja sama dan langkah cepat agar tantangan profesinalisme guru ini terselesaikan demi mewujudkan kualitas sumber daya manusia Pulau Nias yang lebih baik.

Peluang

Keprihatinan atas semakin kritisnya profesionalisme guru di Pulau Nias perlu penanganan serius. Mengapa? Guru adalah landasan atau dasar pembangunan sumber daya manusia. Ujaran mantan Presiden Vietnam Ho Chi Minh di awal tulisan ini, menyadarkan kita begitu sentralnya posisi guru dalam pembangunan sebuah bangsa.

Guru menjadi dasar pembangunan pendidikan, pembangunan ekonomi dan sumber daya manusia tinggi. Karena sentralnya posisi guru, sudah sewajarnya apabila para pemangku kepentingan di Pulau Nias memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan profesionalisme guru.

Di bawah ini penulis menawarkan beberapa refleksi tawaran pemikiran untuk memperbaiki profesionalisme guru di Pulau Nias, antara lain:

Pertama, pembinaan guru. dinas pendidikan, pengawas pendidikan, dan institusi-institusi terkait harus memberikan perhatian serius terhadap pembinaan terhadap guru. Pembinaan guru di sini meliputi: pengembangan karier, pemurnian motivasi, peningkatan keterampilan, pengetahuan, relasi sosial, hidup kerohanian.

Terjadinya pelecehan oknum kepala sekolah terhadap salah seorang peserta didik di Pulau Nias beberapa waktu lalu menjadi bahan pertanyaan tersendiri, apakah selama ini dinas terkait sudah melakukan pembinaan terhadap para guru? Kalau, ya, kemudian sejauh mana pembinaan itu dilakukan?

Kedua, kesejahteraan. Kita memang prihatin. Ternyata di Pulau Nias masih terdapat guru berpenghasilan Rp 100.000 per bulan. Entah guru honorer atau bukan, seharusnya jika ingin kualitas pendidikan tinggi, berkualitas, kesejahteraan guru harus dikedepankan.

Masyarakat hanya menginginkan pendidik yang total dalam pendidikan, dan bukan guru yang masih mencari tambahan penghasilan setelah mengajar.

Ketiga, sarana dan prasarana pendidikan. Pemerintah daerah perlu konsentrasi memperbaiki sarana dan prasarana pendidikan di pulau. Ruang kelas yang berfungsi dengan baik, dan dilengkapi berbagai fasilitas, tentu akan berpengaruh pada kualitas kinerja guru.

Perlu kita ketahui bahwa sarana dan prasarana sangat menentukan kualitas kinerja guru, dan kualitas pendidikan kita. Sebaliknya, ruang kelas bocor, lantai pecah-pecah, ruang kelas dan halaman yang sempit, rumput bergentangan di mana-mana hanya akan membuat kita bertahan dalam ketertinggalan dan keterbelakangan sumber daya manusia.

Keempat, indikator perekrutan guru transparan. Perekrutan guru di Pulau Nias harus jelas, transparan. Pemerintah sudah memuat indikatornya melalui PP No 19/2005 Pasal 28 Ayat 3 tentang kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial. Demi kualitas guru yang lebih, pemerintah harus menggunakan indikator ini secara tegas.

Kelima, kepemimpinan pendidikan. Kualitas guru ditentukan juga kepemimpinan pendidikan khususnya dinas pendidikan, kepala sekolah, dan lain-lain. Pemimpin harus menjadi teladan kepemimpinan. Dengan kata lain, a leader is a role model. A leader help us become the person we want to be and inspire us to make a difference.  Kata-kata dan tindakannya juga harus selaras.

Selain itu, kepala sekolah yang koordinatif, komunikatif, demokratif, dan motivator terhadap para guru akan berpengaruh pada kualitas profesionalisme para guru dalam pemelajaran.

Keenam, konsisten menerapkan manajemen sekolah modern. Manajemen sekolah mencakup perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi perlu diterapkan secara konsisten dan konsekuen oleh semua pemangku kepentingan sekolah, terutama para guru.

Terwujudnya guru profesional apabila guru memiliki kemampuan menerapkan manajemen pembelajaran secara kreatif, efisian, dan inovatif di kelas.

Ketujuh, terciptanya lingkungan kerja yang menyenangkan bagi guru. Lingkungan kerja yang harmonis, damai, sejuk dan menyenangkan menjadi salah satu hak pendidik dalam meningkatkan kualitas pemelajarannya.

Ketika lingkungan kerja bersifat mendukung, rekan kerja bersahabat, kepala sekolah yang bersifat melayani dan menuntun, ruangan kerja yang sejuk, dengan sendirinya akan memberikan pikiran jernih dan positif pada guru bersangkutan. Dia akan memiliki semangat total dan tanpa pamrih dalam mengajar.

Namun, kepala sekolah sebagai manajer punya tanggung jawab menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan, dengan cara memberikan kesadaran kepada setiap peserta didik agar berelasi dengan baik, saling mendukung, dan menghargai sesama rekan guru.

Ketujuh poin penting di atas hanyalah sekadar tawaran pemikiran. Keprihatinan dan pemecahannya masih bisa diperdebatkan sesama Ono Niha. Penulis hanya mengingatkan kita lagi bahwa permasalahan SDM di Pulau Nias saat ini memasuki fase kritis. Kita harus bangkit dari kompleksnya penyebab rendahnya SDM ini.

Sebagai garda terdepan dalam pembangunan SDM, guru perlu didukung dan ditingkatkan profesionalismenya secara menyeluruh dan utuh. Semoga! [Marinus Waruwu, Master of Education, Tinggal di Bandung]

Related posts