KEHIDUPAN

Perajin Ukelele Ini Butuh Bantuan Modal

Yasowanolo Mendröfa

NBC — Sebelum gitar akustik hadir, ukulele (koroco) sudah menjadi alat musik favorit masyarakat sebagai pengiring saat bernyanyi pada masa dulu. Meski bukanlah alat musik tradisional Nias, tetapi jenis instrumen ini sangat dekat dengan kehidupan masyarakat di daerah ini. Hingga awal tahun 90-an pun, ukulele masih digemari, khususnya anak muda yang ada di pedesaan. Alat musik berukuran kecil dengan 4 senar ini mampu menghasilkan irama merdu yang khas dan mengundang perhatian.

Mengutip dari laman Wikipedia, ukulele merupakan alat musik asli Hawaii  yang ditemukan pada 1879 dan masuk ke Indonesia pada 1880 di Palau Ambon dan menyebar ke Makassar, Sulawesi Selatan, dan seluruh Nusantara hingga ke Pulau Nias.

Orang Nias menyebut gitar kecil ini dengan sebutan koroco. Tidak diketahui pasti asal muasal alat musik ini disebut seperti itu. Ada dugaan koroco berasal dari  kata keroncong, salah satu jenis musik yang populer di Pulau Jawa.

Ukulele di Nias masih tetap menjadi primadona masyarakat Nias, terutama saat bernyanyi di Gereja. Hal ini pulalah yang membuat Yasowanolo Mendrõfa masih tetap bertahan untuk membuat alat musik yang satu ini.

Belajar dari Sang Ayah

Jika melewati jalan provinsi yang menuju Nias Barat, di salah satu rumah yang berada di Desa Lölöwua, Kecamatan Hiliserangkai, Kabupaten Nias, terpajang beberapa ukulele hasil buatan tangan perajin ukulele, Yasowanolo Mendröfa (43).  Pria yang lebih akrab dipanggil Ama Wardin Mendröfa ini ternyata sangat piawai membuat ukulele.

Ia tidak mendapat pelatihan khusus agar mampu membuat instrumen musik tersebut. Ia belajar secara otodidak dari sang ayah yang dulunya juga mengerjakan hal yang sama. Hanya bermodalkan keinginan dan hobi bermusik, sang ayah mulai mencoba membuat ukulele.

“Itu sekitar tahun 1988, waktu itu bapak saya—karena tidak punya kebun—terpaksa mencoba mencari mata pencarian lain. Kebetulan saat itu ukulele menjadi alat musik yang mulai berkembang di daerah ini sehingga bapak saya mencoba untuk membuatnya,” ujarnya.

Dari coba-coba itulah ternyata rezeki sang ayah mulai mengalir. Sebagai salah seorang anak, Yasowanolo ikut terjun membantu sang ayah untuk membuat ukulele. Hingga akhirnya, ketika sang ayah meninggal pada 2006, Yasowanolo bersama abang dan adiknya mencoba meneruskan pekerjaan itu.

Namun, kini tinggal ia dan adiknya, Aronasõkhi Mendrõfa (35) saja yang masih bertahan. Abangnya yang sudah tua merasa tak mampu lagi untuk meneruskan pekerjaan yang telah menghidupi mereka bertahun-tahun itu. “Saya boleh bilang, kami besar dan hidup dari hasil penjualan ukulele. Abang saya sudah berhenti jadi tinggal saya dan adik saya,” ujarnya.

Proses Pembuatan

Ukelele setengah jadi

Untuk membuat badan ukulele, diperlukan kayu yang berkualitas baik. Yasowanolo menyebutkan, ada tiga jenis kayu yang baik digunakan, yakni kayu na’a (nangka), gitõliomale, dan mao-mao. Namun, menurut dia, kayu na’a-lah yang memiliki kualitas paling baik di antara ketiganya sebab menghasilkan suara yang lebih nyaring.

“Kalau disandingkan dengan gitar akustik pun, ukulele yang terbuat dari kayu na’a itu suaranya jauh lebih nyaring,” katanya lagi.

Namun, sulitnya mendapatkan kayu tersebut membuat Yasowanolo lebih banyak menggunakan kayu gitõliomale sebagai bahan utamanya. Selain itu, tekstur kayu na’a yang keras juga cukup menyulitkan untuk membentuk pola sehingga dia lebih memilih gitõliomale. Bahan lainnya yang diperlukan adalah tripleks, lem kayu, tali nilon, paku, baut, amplas, serta peralatan, seperti gergaji, kapak, ketam, palu, dan pisau.

Proses pembuatannya dimulai dengan memotong kayu berbentuk segi panjang. Biasanya panjang potongan bervariasi mulai 30 cm hingga 50 cm dengan lebar 10 cm.

Menurut Yasowanolo, variasi panjang ukulele yang ia gunakan bergantung pada permintaan. “Kalau anak-anak lebih suka memainkan ukuran kecil karena sesuai dengan ukuran badan mereka. Kalau terlalu panjang mereka merasa tidak nyaman,” ungkapnya.

Proses selanjutnya adalah menggambar polanya yang diinginkan di atas kertas kardus atau tripleks. Setelah itu, gambar polanya dipotong. Kemudian, buang kayu pada bagian kotak suara hingga tersisa sekitar setengah milimeter pada bagian pinggir dan alasnya. Setelah itu, dihaluskan dengan menggunakan amplas. Jika sudah bersih dan halus, proses selanjutnya adalah memasang bagian ukulele lainnya seperti tutup kotak suara, fret, alat pemutar, dan senar.

Meski terlihat sederhana, tetapi pekerjaan untuk membuat ukulele, menurut Yasowanolo, tidaklah mudah. Selain harus berhati-hati agar tidak merusak setiap komponen, hasil akhir yang diharapkan dari sebuah ukulele adalah keselarasan nada yang dihasilkan dari keempat senar tersebut.

“Jadi, kalau tidak selaras nadanya, itu berarti pekerjaan kami sia-sia,” kata sang adik, Aronasõkhi. Untungnya, hasil semacam itu hingga saat ini belum pernah mereka alami.

Hebatnya, semua proses ini dilakukan secara manual. Namun, hasilnya juga tidak kalah bagus, halus dan rapi layaknya pengerjaan dengan mesin. Hasil kerja mereka ini rata-rata mendapat pujian dari pembeli.

“Mereka heran mengapa hasil ukulele buatan kami ini bisa lebih halus dan rapi meski dengan cara manual,” ujar Yasowanolo. Ukulele buatan mereka pun tak hanya diminati masyarakat lokal, tetapi sudah pernah dibeli oleh orang dari Jakarta.

Karena Amanah

Pola pembuatan ukulele.

Dalam seminggu ia dapat membuat 2 sampai 3 ukulele. Untuk satu ukelele, mereka mematok harga Rp 100.000. Meski demikian, Yasowanolo menuturkan, kalau membuat ukulele bukan berdasarkan pesanan, tetapi berdasarkan ketersediaan bahan. Hal ini yang membuat penghasilannya dari berjualan ukulele tidak menentu. Ia bahkan sempat membentuk grup band bersama abangnya dengan menggunakan ukulele sebagai alat musik tambahan. Namun, akhirnya tidak berkembang karena ternyata tidak menghasilkan materi seperti yang mereka harapkan.

Pemasarannya yang hanya sebatas dipajang dan dijajakan di pasar Kota Gunungsitoli ini pun terkadang tidak memberikan hasil yang menggembirakan. Padahal, membuat ukulele merupakan mata pencarian utama dari bapak empat anak ini.

“Mau bagaimana lagi. Ini sudah merupakan amanah dari bapak. Kami juga tak punya kebun dan sesekali jadi buruh proyek. Tapi, meski kami memiliki pekerjaan lain, membuat ukulele tetap akan kami lakukan meski dengan keterbatasan,” ujarnya.

Yasowanolo mengaku membuat ukulele dengan segala keterbatasan. Mulai dari keterbatasan modal, peralatan hingga pekerja. Ia menuturkan, untuk mendapat bahan baku utama, yakni kayu saja, untuk kayu berdiameter 50 cm per kubik ia harus mengeluarkan uang Rp 500.000. Belum lagi biaya untuk memotong kayu menjadi bagian yang diinginkan (hingga berbentuk segi empat) membutuhkan biaya Rp 400.000 per kubik ditambah dengan biaya pembelian bahan-bahan pendukung lainnya.

“Itu juga belum dihitung dengan biaya pengangkutan kayu dari hutan ke sini,” ujarnya. Meski keuntungan tidak seberapa, ia tetap berupaya menghidupi keluarganya, termasuk biaya sekolah keempat anaknya. Sementara itu, untuk menutupi kebutuhan sehari-hari ia hanya berjualan makanan dan minuman ringan di rumahnya.

Berharap Bantuan Pemerintah

Meski hanya tamatan SD, tetapi tidak membuat suami dari Atiani Mendröfa (40) ini pasrah begitu saja dengan keadaan. Selain berjuang menghidupi keluarganya, ia pun memperjuangkan haknya sebagai masyarakat kecil.

Hidup di bawah garis kemiskinan ternyata tak serta merta membuat ia memperoleh bantuan dari pemerintah. Ia mengaku justru bantuan seperti raskin dan BLSM tidak pernah ia rasakan. Hal ini pun sudah berkali-kali ia sampaikan kepada kepala desa dan camat setempat, tetapi belum ada tanggapan. Ia bahkan melihat adanya saling lempar tanggung jawab antara pemerintah desa dan kecamatan jika ia menanyakan hal tersebut.

“Saya tanya ke kepala desa, katanya itu bukan wewenang kami. Saya ke camat juga jawabannya seperti itu,” ujarnya dengan nada kesal.

Keadaan ini membuatnya sangat kecewa terhadap pemerintah. Menurut dia, pemekaran ternyata tidak membawa dampak positif bagi dia dan keluarganya. Pemekaran yang seyogianya meningkatkan kesejahteraan masyarakat justru jauh dari cita-cita sebelumnya. Ia bahkan menganggap pemekaran hanya dimanfaatkan untuk kepentingan golongan tertentu saja.

“Seharusnya dengan mereka tahu keadaan keluarga saya yang hanya tinggal di rumah bantuan, berarti kami ini adalah warga tidak mampu. Mungkin mereka mengira karena kami mendapat uang dari membuat ukulele, kami sudah mampu. Tapi hasilnya kan tidak seberapa,” katanya.

Keadaan ini pula yang sering membuat ia dan keluarganya berencana pergi ke daerah lain. Namun, entah mengapa, ia mengaku bahwa rencana itu hendak dilaksanakan selalu saja tidak terwujud. Akhirnya ia pun hanya pasrah mengharapkan bantuan dari para donator untuk memajukan usahanya tersebut.

“Mungkin memang sudah menjadi takdir kami untuk tetap meneruskan usaha yang sudah dirintis bapak,” katanya. Ia pun mengatakan akan meneruskan pengetahuan pembuatan ukulele ini kepada anak-anaknya juka sudah besar nanti.

Kepada NBC, ia melontarkan harapannya agar pemerintah dapat memperhatikan nasib keluarganya. Tidak hanya soal bantuan, juga tentang pengembangan usahanya. Ia mengemukakan meski sudah berkali-kali pihak dari pemerintah (dinasnya dia tidak tahu pasti) mendatangi tempat kediamannya untuk survei dan wawancara, tetapi hasilnya tidak kelihatan sampai sekarang.

“Saya berharap ada perhatian pemerintah untuk membantu saya mengembangkan usaha ini, baik melalui bantuan pengadaan mesin maupun bantuan modal,” ujarnya.

Sebab, menurut dia, ukulele buatannya bisa dijadikan sebagai alternatif buah tangan khas Nias dan dapat membuka lapangan kerja bagi masyarakat seperti dirinya. Ia pun berangan-angan jika keinginannya terpenuhi, pembuatan ukulele dapat semakin berkembang dan membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat seperti dirinya. [ANOVERLIS HULU]