ASET PARIWISATA

Keindahan Pantai Tureloto Geliatkan Ekonomi Warga Sekitar

Sejumlah warga menikmati indahnya Pantai Tureloto. | Foto: NBC/Ketjel PZ

NBC — Angin semilir dan barisan terumbu karang tersembul di permukaan laut dengan beraneka bentuk disertai hamparan pasir putih halus seolah jadi ciri khas bagi obyek wisata yang satu ini. Sejak tiba, kita akan disuguhi kombinasi gradasi warna air laut yang sangat indah. Pantai Tureloto yang terletak di Desa Balefadoro Tuho, Kecamatan Lahewa, ini mulai ramai dikunjungi wisatawan.

Kabupaten Nias Utara memang memiliki ciri khas pantai yang sangat unik. Dampak gempa tahun 2005 menjadikan beberapa pantai khususnya di pesisir Lahewa yang semula berada di dasar laut menjadi muncul ke permukaan. Sehingga bukan saja terumbu karang yang muncul ke permukaan laut, melainkan juga hamparan pasir putih yang semula berada di kedalaman 10 meter di dasar laut dapat kita pijak dengan ketinggian air yang bervariasi.

Tak sulit untuk mencapai pantai ini. Pemerintah Kabupaten Nias Utara tampaknya berniat menjadikan Pantai Tureloto sebagai obyek wisata andalan. Untuk mencapai Pantai Tureloto kita dapat menggunakan mobil atau kendaraan roda dua. Jalannya pun bagus sehingga sangat mudah dicapai, kita hanya menempuh jarak 5 km tugu Pelabuhan Lahewa.

Ramai Dikunjungi

Saidun Gulö, penjual mi sop di Pantai Tureloto | Foto: NBC/Ketjel PZ

Saidun Gulö (47), salah seorang penjualan mi sop di Pantai Tureloto, mengaku kewalahan setiap hari libur. Saidun, yang awal adalah seorang nelayan di Desa Balefadoro Tuho, memilih untuk banting setir menjadi penjual mi sop karena melihat banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Pantai Tureloto. “Setiap hari libur, pantai sini selalu ramai. Bisa beratus-ratus orang datang untuk menikmati keindahan pantai dan mandi-mandi di sini. Lautnya tenang juga tidak dalam, membuat mereka betah lama-lama di sini,” ujarnya.

Melihat banyaknya wisatawan yang berkunjung, Saidun dan beberapa warga desa membuat beberapa kedai yang tertata rapi di sepanjang pantai. Keuntungan pun mulai diraih. “Pendapatan saya berjualan setiap hari libur bisa sampai Rp 2 juta-Rp 3 juta sehari. Pengunjung pantai ramai mulai pukul 3 sore,” ujarnya.

Selain itu pengunjung dapat menyewa perahu nelayan dan berkeliling di sekitar perairan Lahewa hanya dengan membayar Rp 5.000 per orang. Salah seorang pengunjung bernama Linda Telaumbanua (36) mengaku meski sedikit takut naik perahu, tetapi merasa puas oleh pemandangan pantai yang dia lihat dari atas perahu.

“Burung-burung laut beterbangan di sekitar perahu kami. Saya lihat ada juga burung yang bawa ikan di mulutnya. Di tengah lautan tadi, saya juga lihat ada daratan yang dikelilingi oleh karang. Pingin juga berhenti di situ. Saya jadi lupa kalau saya ini tidak bisa berenang dan gampang mual,” ujarnya kepada NBC.

Ikan Asap

Ikan asap oleh-oleh khas Pantai Tureloto | Foto: NBC/Ketjel PZ

Fabeli Zalukhu (40), sejak tahun 2009, sudah menjadi pembuat ikan asap. Melimpahnya hasil tangkapan ikan karang dan persaingan antarnelayan yang sangat ketat membuat dia berpikir bagaimana melakukan inovasi hasil tangkapan.

Berkat keterampilannya dalam mengolah ikan asap dengan cara sederhana dan alami, serta letak rumahnya yang berada persis di tepi Pantai Tureloto membuat wisatawan selalu mampir ke rumahnya untuk menyantap ikan bakar dan membeli oleh-oleh khas Pantai Tureloto, yaitu ikan asap buatannya untuk dibawa pulang.

“Membuat ikan asap, meskipun prosesnya sederhana, tetapi harus benar-benar menjaga kualitas ikan. Ikan yang diasap harus ikan yang segar dan bukan dari ikan sisa yang tak laku dijual,” ujar Fabeli sambil menunjukan ikan asap yang sedang diasapi kepada NBC.

Pengasapan ikan sangat sederhana. Ikan segar setelah didapat dari nelayan sekitar, langsung dicuci bersih dan direndam dengan kunyit dan perasan air jeruk untuk menghilangkan amis. Tempat pengasapan awalnya dibuat sendiri oleh Fabeli dari bambu. Namun, hasilnya tidak seperti sekarang. Asap terlalu tebal membuat penampilan ikan asap jadi kurang menarik. Begitu juga aroma asapnya sangat tajam.

Setahun setelah memulai usaha ikan asap, Fabeli mendapat bantuan alat pengasapan ikan dari NGO, CORE-MAP. Di situlah dia belajar kembali tentang pengolahan ikan asap yang berkualitas dan memiliki nilai jual yang tinggi.

“Keunggulan alat ini dapat menghasilkan 200 kilogram ikan asap dengan pengasapan selama 3-5 jam saja. Ikan asap yang sudah jadi, saya jual Rp 60.000 per kg,” ujarnya. “Inilah yang menghidupi keluarga saya.”

Selain membuat ikan asap, Fabeli juga menjual ikan bakar/goreng bagi wisatawan. Dengan Rp 50.000 per kg ikan karang segar, kita dapat menyantap makanan di tepi Pantai Tureloto yang sangat bersih ini.

Perhatian Pemda dan Aparat Desa

Tak pelak lagi, perekonomian di Pantai Tureloto tengah menggeliat. Sebagai salah satu pantai wisata andalan Kabupaten Nias Utara, pemerintah daerah terlihat sudah mulai memberikan perhatian terhadap perkembangan obyek wisata yang satu ini. Dengan menggunakan APBD 2012, Pemda Nias Utara membangun 5 pondok dan jalan setapak dari pavingblock bagi wisatawan.

Masyarakat Desa Balefadoro Tuho, yang terdiri dari 2 dusun, yang rata-rata penduduknya adalah nelayan dan petani itu bahu-membahu menjaga aset daerah dengan membangun komitmen bersama. Sesuai hasil musyawarah masyarakat desa bersepakat untuk tidak menggunakan pasir pantai di wilayah desa mereka untuk dieksplorasi dan menjaga keberadaan terumbu karang di wilayah pantai desa mereka.

Hal yang baik ini cukup mendapat respons dari wisatawan yang berkunjung ke obyek wisata Pantai Tureloto, Kecamatan Lahewa. Mereka tidak sembarangan membuang sampah ke laut dan turut menjaga kebersihan lingkungan sekitar pantai.

Salah seorang pengunjung, Kurniawati Daeli dari Gunungsitoli, kepada NBC mengatakan, “Pantai Tureloto sangat indah dan bersih. Sangat puas mandi-mandi di sini.”

Namun, begitu sebagai wisatawan seperti Kurniawati berharap agar pemda menyediakan kamar mandi yang layak. “Memang ada kamar mandi di sebelah sana, tetapi tidak ada airnya.“

Saat NBC mengonfirmasinya kepada salah seorang pedagang yang berjualan di sekitar Pantai Tureloto, ibu penjual mi sop itu menjawab, “Kamar mandi sudah ada sejak Kabupaten Nias Utara belum dimekarkan. Meski bangunannya bagus dan sebenarnya sudah bisa dipakai, tetapi belum diserahterimakan oleh Kabupaten Nias ke kabupaten Nias Utara, itu yang membuat kami jadi takut mau mengelola kamar mandi itu.”

Mungkin perlu perhatian lebih dari Pemerintah Nias Utara dan masyarakat Desa Tureloto untuk menata dengan baik pengelolaan Pantai Tureloto. Menjaga dan melestariakan Pantai Tureloto menjadi tanggung jawab bersama agar pantai yang baru menggeliat perekonomiannya ini tidak ternoda oleh pihak-pihak yang hanya memikirkan eksploitasi tanpa mengedepankan kearifan lokalnya. [Ketjel Parangdjati Zagötö]

Related posts