HARI DONOR DARAH SEDUNIA

Bila Darah Jadi Komoditas…

Ilustrasi: mari menjadi donor darah untuk bantu sesama.

NBC Pattimura Daeli (34), warga Dusun Tiga Serangkai, Kecamatan Lahömi, Kabupaten Nias Barat, terlihat kuyu di  selasar Rumah Sakit Umum Gunungsitoli di dekat bangsal kebidanan. Istrinya, Seniwati Halawa (26), adalah seorang pasien rawat inap di bangsal tersebut. Badan Seniwati panas tinggi. Tubuh menggigil akibat keguguran yang dialaminya.

“Istri saya harus dioperasi untuk mengeluarkan penyakit di perutnya. Namun, dia harus disediakan darah 3 kantong supaya bisa dioperasi. Saya tidak ada uang untuk membeli darah,“ ujar Pattimura perlahan.

Beruntung sore itu, dua reporter media online, hatinya tergerak melihat kesedihan Pattimura dengan menyumbangkan darah mereka secara sukarela sehingga Pattimura hanya perlu mencari satu orang yang mau menjual darahnya.

Lain lagi cerita Dian Gulö, salah seorang dokter di RSU Gunungsitoli, yang kebetulan pernah merawat pasien perempuan bernama Bunga (13), penderita Anemia akut. “HB-nya tinggal 3. Seharusnya anak ini mendapat transfusi darah 7 kantong. Namun, keluarganya hanya mampu mendapatkan satu kantong darah. Setelah di transfusi, Bunga dipulangkan oleh kedua orangtuanya dengan alasan tidak ada biaya,” ujar dr. Dian Gulö.

Dua kasus ini menggambarkan betapa darah sangat dibutuhkan. Namun, permasalahannya banyak masyarakat yang belum menyadari bahwa sekantong darah yang bisa kita sumbangkan kepada orang lain bisa membuat perbedaan terhadap orang yang membutuhkannya.

Dalam momen Hari Donor Darah Sedunia yang diperingati 14 Juni ini kita maknai bahwa dengan menjadi donor darah bukanlah sesuatu yang harus ditakutkan. Bahkan, menurut penelitian, menjadi donor, seseorang bisa sehat bila dilakukan secara rutin. Yang jauh lebih penting adalah dengan menjadi donor, kita telah berbuat kebajikan guna menyelamatkan seseorang dari kematian.

Akan tetapi, yang ironis, adalah ketika darah dibanderol, menjadi komoditas. Anda butuh darah, siapkan uang. Percaya atau tidak, informasi yang dihimpun NBC, satu kantong darah golongan O di Gunungsitoli dijual seharga Rp 800.000.  Golongan darah A Rp 1.500.000. Golongan darah B Rp 1.000.000. Golongan darah AB Rp 2.000.000. Bagaimana hal ini bisa terjadi di Kepulauan Nias? Mengapa kesadaran masyarakat untuk menyumbangkan darah secara sukarela sangat minim? Ketika rumah sakit belum memiliki Unit Tranfusi Darah, bagaimana solusi untuk mengatasi keadaan ini?

Menyumbang Darah Itu Sukarela

Sekantong darah bisa sangat bernilai maknanya.  Bagi orang yang menerima darah dan juga bagi penyumbang darah itu sendiri. Ada ungkapan yang sering kita dengar, “Setetes darah bisa menyelamatkan satu nyawa, “  UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang Pelayanan Darah pada Bab VI Pasal 28 ayat 1 tertulis, “setiap orang dapat menjadi pendonoran darah”. Sedang pada ayat 2 tertulis, “pendonoran darah dilakukan secara sukarela ”. Yang dimaksud dengan sukarela di sini adalah penyumbangan darah yang dilakukan tanpa menerima bayaran dalam bentuk tunai ataupun bentuk lainnya termasuk bebas dari tugas/pekerjaan di luar waktu dan perjalanan yang diperlukan saat menjadi donor darah.

Penyelenggara penyumbangan darah dapat memberikan cenderamata, minuman, dan makanan kecil atau pengganti biaya transportasi untuk donor darah. Hal ini masih sesuai dengan kaidah menyumbangkan darah secara sukarela.

RSUD Gunungsitoli Belum Punya UTD

RSU Gunungsitoli sebagai satu-satunya pusat pelayanan kesehatan di kepulauan Nias ternyata belum memiliki Unit Tranfusi Darah (UTD). Rata-rata 200-250 kantong darah ditransfusikan kepada pasien setiap bulan.

Dr. Yuliani Zaluchu, M.SC, Sp.PK, Kepala Laboratorium RSU Gunungsitoli, mengatakan, “Jumlah tersebut masih sangat jauh di bawah permintaan dokter. Untuk beberapa penyakit, seperti anemia, ginjal, komplikasi kandungan, kadang dokter meminta 3-10 kantong darah untuk satu pasien. Namun, keluarga pasien hanya mampu membawa donor 1 atau 2 orang saja.“

Menurut Yuliani, RSU Gunungsitoli berencana membuka Unit Transfusi Darah, tetapi terkendala ketidaksediaan peralatan. “Kami berupaya untuk segera menjalankan UTD, tetapi terkendala dengan peralatan yang belum lengkap. Karena bagian-bagiannya berupa komponen yang saling menunjang kerja alat, masih ada 2 alat lagi yang belum dimiliki yang termasuk vital untuk kelancaran berjalannya UTD,” ujar Yulianis.

Kondisi ini menyebabkan keluarga pasien kebingungan mencari orang yang mau menyumbangkan darah. Apalagi, bila pasien berasal dari desa yang jauh dari kerabat dan saudara. Nah, hal ini dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk mendapatkan keuntungan finansial dari menyumbangkan darah. Sehingga muncul opini dalam masyarakat bahwa darah dapat diperjualbelikan.

Seorang dokter yang telah malang-melintang di dunia kebidanan adalah salah satu orang yang sering berhadapan dengan masalah penyumbangan darah. Dr. Hönazaro Marunduri, Sp.OG, ahli kandungan dan kebidanan, yang biasa dipanggil dengan dr. Maru. Saat ditemui di ruang praktiknya bercerita tentang pengalamannya menangani pasien.
“Seorang ibu melahirkan dengan komplikasi harus segera diberi tindakan operasi. Terpaksa saya harus menunda operasinya karena pihak keluarga belum bisa menyediakan darah. Saya serbasalah. Bayangkan, bagaimana bila saat menunggu keluarganya mencari darah, lalu bayinya meninggal. Akan tetapi, kalau ibunya langsung dioperasi risiko perdarahannya bisa mengakibatkan nyawa sang ibu terancam. Beruntung, ada rekan sesama dokter yang dengan rela hati membantu menyumbangkan darahnya. Meskipun hanya 1 kantong dari 6 kantong yang seharusnya diterima oleh pasien. Puji Tuhan anak lahir hidup dan ibu  dalam keadaan selamat,” kata dr. Maru kepada NBC.

Menjadi Donor Darah Itu Sehat

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa menyumbangkan darah ternyata banyak manfaatnya. Seperti dijelaskan oleh dr. Monik dari Balai Pengobatan OBI, ada beberapa manfaat yang akan diterima ketika kita menyumbangkan darah:

  1. Menjaga kesehatan jantung, ketika kita mengonsumsi makanan, ada penimbunan zat besi dapat menimbulkan gangguan jantung
  2. Sel-sel darah merah yang keluar dari tubuh kita membuat sumsum tulang belakang memproduksi sel darah baru dan hal itu membuat tubuh kita menjadi lebih segar dan sehat.
  3. Darah keluar 400 cc, maka 600 kalori terbuang otomatis kita akan menjadi lebih langsing.
  4. Memberikan milik kita yang sangat dibutuhkan orang lain merupakan berkat yang sangat bernilai harganya.
  5. Secara tidak langsung kita memeriksakan kondisi tubuh kita di laboratorium.

Dr Monik menyampaikan bahwa untuk menjadi donor perlu memperhatikan beberapa syarat, yaitu

  1. Berusia berusia 17-60 tahun;
  2. Berat badan minimal 45 kilogram;
  3. Diperiksa kadar HB di bawah 12 mmHg tidak diluluskan menjadi penyumbang darah;
  4. Tekanan darah normal. Resistol 100-150, diastol 70-100;
  5. Bebas dari penyakit hepatitis, HIV, malaria, diabetes, epilepsi;
  6. Suhu tubuh normal 36,5-37,5 derajat celsius;
  7. Dianjurkan untuk rutin menyumbangkan darah minimal setiap tiga bulan sekali.

Pengalaman di balai pengobatan OBI, dr Monik  anak-anak gizi buruk, anemia dengan HB rendah. Ketika keluarga diminta untuk menyumbangkan darah untuk anaknya, mereka meminta uang transpor, uang makan dan uang pengganti darah. Akhirnya, para karyawan di OBI yang berinisiatif mendermakan darah.

Dari berbagai sumber, NBC mendapatkan bahwa ada beberapa alasan masyarakat tidak mau menjadi donor daerah. Beberapa alasan itu adalah:

  1. Pengetahuan akan menyumbang darah belum dipahami oleh masyarakat. Takut darahnya kurang-habis-penyakitnya pindah. Padahal, bila melihat manfaatnya, akan banyak keuntungan dari menyumbangkan darah.
  2. Sosialisasi dari dinas kesehatan akan pentingnya menyumbangkan darah masih sangat kurang.
  3. Masyarakat masih memasang tarif untuk darah yang mereka keluarkan.
  4. Keterbatasan prasarana dan kekurangan sumber daya manusia di rumah sakit yang belum mampu menyediakan unit transfusi darah .

Kesadaran Bukannya Tidak Bernilai

Melihat minimnya kesadaran masyarakat untuk menyumbangkan darah secara sukarela, tampaknya masih perlu banyak upaya dari berbagai elemen masyarakat untuk menciptakan kesadaran. Solusi utama untuk menjaga ketersediaan darah di Nias adalah dengan secepatnya menjalankan Unit Tranfusi Darah di RSU Gunungsitoli.

Selain itu, solusi lain seperti yang dikatakan oleh Suster Klara Duha dari Balai pengobatan Fa’omasi, Laverna, “Perlu kesadaran dari para bupati dan wali kota di Nias untuk terlibat secara aktif, memberikan perintah atau setidaknya mengimbau bawahannya untuk menyumbang darah bagi yang membutuhkan dengan sukarela tanpa meminta imbalan. Pihak kepolisian dan Kodim juga seharusnya juga terlibat.”

Hal senada juga dikatakan oleh dr. Maru, “Bila yang di atas menggerakkan pasti bawahan akan melaksanakan. Terlebih mungkin harus dibuat peraturan untuk melarang dengan tegas  orang-orang yang memperjualbelikan darah.”

Hari Donor Darah Sedunia ini hendaknya kita semua masyarakat Nias khususnya untuk mau mendermakan darah untuk badan tetap sehat dan ingat: sekantong darah Anda akan bisa menyelamatkan jiwa orang lain. Jangan pernah menjadikan darah sebagai komoditas yang bisa diperjualbelikan. [KETJEL ZAGÖTÖ]

* KBBI: donor darah adalah orang yang menyumbangkan (mendermakan) darah. Istilah ‘mendonorkan’, ‘pendonoran’, ‘didonorkan’ adalah kurang tepat. Kata ‘mendonorkan darah’ bisa diganti dengan ‘menyumbangkan darah’ atau ‘mendermakan darah’. Mari kita jadi donor darah.