BULAN RAMADHAN

Tradisi ”Managawa” Harusnya Bisa ”Dijual” kepada Wisatawan

Ritual "managawa" di pantai Jalan Kelapa Gunungsitoli, yang dilaksanakan saat menyambut datangnya Ramadhan, berpotensi dijadikan salah satu obyek wisata di kepulauan Nias. | Foto: NBC/Ketjel Parangdjati Zagoto

NBC — Sore hari (20/7/2012) pesisir pantai di Kepulauan Nias tidak seperti biasanya. Ratusan warga memadati pantai untuk melaksanakan tradisi managawa, keramas. Pantauan NBC, di sekitar Kota Gunungsitoli, beberapa tempat wisata, seperti Pantai Hoya, Charlita, Pelabuhan Angin, Museum Pusaka Nias, Grand Kartika, Pelabuhan Lama, dan beberapa tempat wisata pantai lainnya dipadati pengunjung. Tebersit harapan, tradisi managawa ini bisa dikemas untuk menjadi obyek wisata.

Sayangi Zai (16),warga Sifalaete,yang datang bersama ibu dan kedua adiknya, sudah 2 jam bermain air di Pantai Charlita. Meskipun bukan Muslim, dia datang untuk meramaikan tradisi managawa, beberapa temannya juga terlihat basah kuyup dan sibuk mengambil foto-foto mereka dengan kamera telepon seluler. “Kami menyemarakkan, managawa,ujar Sayangi.

Menjelang Puasa

Managawa—dalam Bahasa Nias mempunyai arti keramas dalam Bahasa Indonesia. Beberapa daerah di Indonesia juga memiliki tradisi serupa. Di Sibolga biasa disebut balimo-limo, di Medan disebut punggahan, dan di Jawa disebut padusan. Oleh karena itu, boleh dibilang tradisi ini sebenarnya adalah warisan nenek moyang kita. Sehingga menjadi budaya yang biasa dilaksanakan sebelum bulan puasa tiba.

Tradisi managawa memiliki makna membersihkan diri secara lahiriah dengan membasuh diri kita dengan menggunakan wewangian untuk menghilangkan bau pada badan, agar saat shalat berjemaah tidak tercium bau yang tidak sedap.

Sebelum melaksanakan ibadah puasa, umat Muslim bersukacita menyambut Ramadhan dengan mandi di sumber-sumber mata air. Ada yang di sungai, ada juga yang di laut.

H. Ja’far Harefa, S.Ag, yang juga bekerja di Departemen Agama Kota Gunungsitoli, mengatakan, “Tradisi managawa saat ini sebenarnya sudah mengalami pergeseran. Karena anak-anak muda sekarang lebih suka memakai wangi-wangian modern. Contohnya, keramas dengan memakai sampo yang sudah wangi lalu sabun dan parfum. Dulu karena belum ada cara yang praktis maka ada tagawa/panyir  ramuan tradisional yang sangat wangi dan digunakan untuk air mandi. Sehingga pada saat shalat tarawih kita sudah harum dan istilahnya siap secara lahir untuk menjalani bulan puasa.”

Bahan ”Tagawa”

Bahan-bahan atau ramuan managawa disebut tagawa. Secara khusus NBC berkunjung ke rumah ibu Siti Dinar Wau, seorang pensiunan PNS. Beliau tinggal di Jalan Kelapa Ujung, Gunungsitoli. NBC berkesempatan belajar membuat ramuan tradisional tagawa.

“Sesungguhnya bahan untuk pembuatan tagawa masih ada yang jual di pasar. Harganya murah paling mahal Rp 5.000 satu plastik besar,” ujar ibu Siti Dinar Wau.

Bahan Tagawa | Foto: NBC/Ketjel Parangdjati Zagoto

Bahan-bahan membuat tagawa:

  1. Daun pandan wangi (bulu fandramusa, bahasa Nias) daun nilam (bulu nila, bahasa Nias,red)
  2. Daun serai wangi ( sare balandra, bahasa Nias),
  3. Jeruk kesturi—tekstur kulit seperti jeruk purut,tetapi memiliki aroma bunga (Karena jeruk jenis ini sangat sulit didapat maka bisa diganti dengan jeruk purut),
  4. Bulu gambelu—sejenis  kincong yang biasa digunakan untuk memasak sayur ubi tumbuk. Namun memiliki bulu halus di balik daunnya dan memiliki aroma yang sangat harum. Urat daun berwarna kekuningan. Bulu gambelu ini dipakai mulai dari umbi, batang dan daunnya.

Bahan-bahan tagawa itu dikumpulkan sebanyak-banyaknya lalu dicuci bersih. Kemudian direbus dengan menggunakan 10 liter air selama 2 jam. Tempat untuk merebus tagawa harus tertutup rapat supaya uap airnya tidak keluar.

Biasanya tagawa direbus pagi hari. Sehingga ketika sore hari setelah selesai mandi di laut siap digunakan untuk bilasan. Menurut penuturan ibu Siti Dinar Wau, “ Untuk orang-orang yang sudah lanjut usia, seperti saya, tradisi managawa tanpa menggunakan ramuan tradisional tagawa saat rasanya kurang afdol. Sebenarnya bahan tagawa ada di sekitar kita. Meskipun ada beberapa jenis yang sangat sulit didapat. Bahkan, saya tidak tahu Bahasa Indonesianya.”

Menjadi Obyek Wisata

Managawa tidak hanya sebagai ritual keagamaan, tetapi kini telah menjadi sarana hiburan dan ajang sosialisasi warga. Sebelum "managawa" warga Jalan Kelapa Kota Gunungsitoli melakukan pertandingan tarik tambang. | Foto: NBC/Ketjel Parangdjati Zagoto

Kembali pada tradisi managawa. Bila saja Pemerintah Daerah di KepulauanNias, dalam hal ini Dinas Pariwisata, menangkap peluang tradisi ini menjadi salah satu obyek pariwisata, bukan tidak mungkin managawa ini menjadi salah satu “jualan” pemerintah untuk menarik wisatawan dari luar.

DinasPariwisata sebenarnya sudah tak perlu harus bekerja keras untuk mengangkat tradisi ini, sebab namanya sudah sangat ”menjual”, managawa, mirip-mirip Bahasa Jepang. Tradisi ini tinggal dikemas sedemikian rupa sehingga orang yang ingin tahu bisa mendapatkan informasi yang cukupserta tertarik untuk menyaksikan ritual ini.

Manfaat lain dari managawa ini adalah mendorong masyarakat untuk menjaga keindahan pantai di pesisir Kota Gunungsitoli atau di Pulau Nias. Dengan orang mandi di laut, kesadaran untuk menjaga kebersihan di laut semakin tinggi. Apalagi bila diikuti dengan niat baik pemerintah untuk menerapkan imbauan dan aturan untuk menjaga kebersihan pantai.

Tak bisa dimungkiri, kondisi pantai—khususnya sepanjang pantai di pesisir Kota Gunungsitoli—sudah sangat memprihatinkan karena dipenuhi oleh sampah. Masyarakat di sekitar pantai itu pun merasa sampah-sampah yang berserakan di pantai itu bukanlah sampah mereka melainkan sampah “kiriman” entah darimana. Artinya, yang perlu kita perhatikan adalah masih ada warga yang masih membuang sampah di laut.

Pertanyaan kita, tertarikkah pemerintah—khususnya Pemerintah Kota Gunungsitoli—mendengarkan dan menangkap peluang ini sebagai salah satu obyek wisata? Atau mereka masih disibukkan untuk menjawab atau bahkan melawan berbagai tudingan yang dialamatkan DPRD terhadap kejanggalan-kejanggalan penggunaan APBD yang dibumbui aroma dugaan korupsi di dalamnya? Hanya Tuhan dan mereka sendiri yang tahu. [Ketjel Parangdjati Zagötö/Sotafi Lie]