Air Terjun Mo’ambölö yang Menggoda

 

NBC – Kecamatan Baŵalato sejauh ini hanya dikenal sebagai salah satu lumbung beras di Kabupaten Nias. Ternyata tidak hanya itu, Baŵalato menyimpan potensi wisata alam yang selama ini tak tersentuh.

NBC beruntung dapat kesempatan mengunjungi obyek Wisata Alam Air Terjun Mo’ambölö yang sedang menggeliat. Selama 2 bulan terakhir, lokasi ini ramai dikunjungi oleh berbagai kalangan. Ada mahasiswa Mapala Biog’s 06 IKIP Gunungsitoli, Tim Penggerak PKK Provinsi Sumatera Utara dan Kabupaten Nias, serta masyarakat umum.

Lokasi Mo’ambölö terletak sekitar 1,5 kilometer dari jalan provinsi yang menuju Kecamatan Baŵalato. Hanya saja, karena harus jalan kaki, disarankan untuk menyiapkan pelindung kaki alias sepatu karena jalan menuju air terjun yang cukup jernih ini sedang dilakukan pengerasan oleh pemerintah daerah. Dari Kota Gunungsitoli, Mo’mbölö dapat ditempuh lebih kurang 1 jam dengan kendaraan bermotor. Persimpangan jalan menuju lokasi terletak sekitar 6 kilometer sebelum sampai di ibu kota Kecamatan Baŵalato. Atau lebih tepatnya 500 meter setelah Jembatan Sungai Mola.

Udara Segar

Sebuah jembatan dengan jalan disemen menuju puncak Wisata Alam Air Terjun Mo’ambölö.

Lelahnya berjalan kaki menyusuri jalan berbatu akan segera sirna di kala Anda menghirup udara segar dan menyaksikan kebun rakyat di sisi kiri-kanan jalan. Sayangnya, ketika NBC melewati jalan ini petani telah selesai panen sehingga pemandangan sawah menguning tidak sempat kami saksikan. Sejauh mata memandang sawah terlihat tinggal bekas-bekas batang padi yang telah kering untuk selanjutnya akan dijadikan pupuk tanaman padi musim tanam berikutnya.

Ada juga bedengan-bedengan siap tanam yang cukup luas yang menandakan sistem pertanian yang sudah mulai menerapkan teknologi pertanian. Andai saja sawah itu sedang menguning dan bedengan yang cukup luas ini sedang hijau-hijaunya dengan tanaman cabai, tentunya lebih menambah indahnya perjalanan menuju Mo’ambölö.

Setelah berjalan hampir 500 meter, jalan selanjutnya semakin sempit dan tidak berbatu. Sepanjang jalan ini kita akan disuguhkan pemandangan pohon pisang di kiri-kanan jalan. Nuansa pedesaan akan semakin terasa dan sejenak membawa kita melupakan hiruk-pikuk kendaraan bermotor yang semakin tidak terdengar suaranya.

Sembari memuaskan paru-paru menghirup udara segar, kita dapat melanjutkan perjalanan. Tidak berapa lama kita akan bergerak mendaki dan dari sini jalan selebar kurang lebih 1,5 meter telah disemen. Menurut masyarakat sekitar, jalan tersebut dibangun dari dana PNPM Mandiri Pedesaan Desa Hiliŵarökha. Ada sebuah pondok kecil beratap rumbia yang dapat Anda jadikan tempat istirahan menjelang berakhirnya pendakian. Sepertinya, pondok itu dibangun oleh pemilik kebun sebagai tempat mengaso melepaskan lelah setelah bekerja.

Mengakhiri jalan mendaki tersebut, segera Anda akan disuguhkan pemandangan lokasi air terjun Mo’ambölö. Namun, sebelum itu Anda akan melewati sebuah jembatan mini beratap rumbia sebagai gerbangnya. Kalau Anda ingin terlebih dahulu ke puncak air terjun yang mempunyai ketinggian sekitar 25 meter ini, silakan ikuti terus jalan semen yang akan mengantar Anda menaiki tangga menuju puncaknya. Namun, bila selera Anda lebih memilih melihat dasarnya, berbeloklah ke kiri dan ikuti jalan setapak yang akan membawa Anda menikmati beningnya curahan air terjun Mo’ambölö.

Menurut pemilik tanah, Nati’aro Telaumbanua, daerah itu merupakan bagian wilayah Dusun II Desa Hiliŵarökha. Sejak dulu, Nati’aro telah melihat potensi wisata yang tersimpan pada lokasi air terjun Mo’ambölö, tetapi karena keterbatasan pendanaan hingga saat ini ia belum dapat berbuat banyak. Selain potensi keindahannya, airnya yang cukup jernih juga merupakan sumber air pegunungan asli yang dapat dijadikan potensi ekonomis.

Bagi yang hobi berkemah, sepertinya lokasi air terjun Mo’ambölö dapat menjadi satu pillihan. Puncaknya dapat menampung beberapa tenda yang cukup besar. Namun, tentu saja sebelum berencana untuk melakukan perkemahan, Anda disarankan untuk mempersiapkan peralatan yang cukup, termasuk untuk mengantisipasi hujan dan alat penerangan di malam hari. Jika Anda beruntung, pada malam hari Anda dapat menghitung bintang di langit cerah sambil mendengar lembutnya suara air bening Mo’ambölö, dan semoga keberuntungan Anda masih berlanjut hingga fajar menyingsing, biarkan mata Anda menyambut mentari pagi diiringi merdunya burung-burung bernyanyi. Menyenangkan, bukan? [YUSMAN ZENDRATÖ]